Indonesia
adalah negeri yang penuh pesona keindahan alamnya, kaya akan tambang, tumbuhan
dan buah-buahan, bahkan jika tongkat terlempar ke negeri ini, ia akan tumbuh
jadi pohon karena sangat suburnya tanah ini. Tapi kekayaan negeri ini belum
bisa dirasakan oleh mayoritas penduduk Indonesia. Kasus bunuh diri dan bunuh
keluarga karena jeratan ekonomi terus terjadi; kriminalitas seperti pencurian,
pencopetan, pembegalan pun terjadi karena tingginya tuntutan ekonomi sedangkan
lapangan pekerjaan tidak ada. Yah, negeri ini sedang dikepung berbagai
persoalan sehingga kebangkitan negeri ini pun menjadi hal yang senantiasa
digemakan oleh berbagai kalangan.
Semuanya pernah
dicoba tapi tidak berhasil
Solusi
menuju kebangkitan digemakan seiring bergantinya tahun dan bergantinya rezim tapi
hingga saat ini belum ada yang berhasil. Di mulai dari tahun 1995, Indonesia
berambisi mewujudkan kebangkitan dengan adanya Pemilu, namun pasca pemilu
kondisi politik justru syarat dengan konflik, akibatnya pemilu yang dijadwalkan
tahun 1960 tidak terlaksana dan setelah itu pemilu berjalan 5 tahun sekali. Kemudian
munculah pergerakan mahasiswa dalam gerakan reformasi tahun 1998 yang hanya
menuntut pergantian rezim Soeharto dan saat itu mahasiswa melupakan kontruksi
negara yang ingin dibangun pasca reformasi tersebut sehingga ini pun tidak
berhasil. Saat itu munculah BJ Habibie sebagai Presiden Indonesia dengan
kabinetnya yaitu kabinet reformasi pembangunan era Habibie, namun rezim ini
terjerat oleh kasus lepasnya Timor-timor maka muncullah Reformasi jilid II
layaknya Reformasi jilid I yang tidak berhasil.
Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) pun muncul sebagai presiden yang membuka jalan hadirnya
kebijakan pluralisme dan keterbukaan, serta memperbolehkan komunis hidup. Setelah
rezim Gus Dur berakhir, tampuk kekuasaan RI dipegang oleh Presiden
Megawati yang menjadi rezim penjual perusahaan BUMN ke pihak asing dan kasus
BLBI yang menimbulkan kerugian terhadap negara jauh lebih besar dari Century. Tahun
2009-2014, Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pun menguasai Indonesia dan yang terjadi korupsi, kolusi, nepotisme
(KKN) yang seharusnya dibasmi seperti yang dilantangkan pemuda dan mahasiswa
pada era reformasi 1998, malah tumbuh subur di rezim SBY. Dan saat ini kita di
pimpin oleh rezim Kabinet Kerja Jokowi yang terkenal
blusukannya dan pro rakyat kecil tapi tanpa belas kasihan, Presiden baru harapan rakyat itu
justru membuat kebijakan baru
yang menyengsarakan rakyat seperti privatisasi oleh swasta/asing atas sektor
publik yaitu migas, listrik, jalan tol dan lainnya; pencabutan subsidi
komoditas strategis seperti migas, listrik, pupuk dan lainnya; penghilangan
hak-hak istimewa BUMN melalui berbagai ketentuan dan perundang-undangan yang
menyetarakan BUMN dengan usaha swasta.
Nyatanya
sepakat seperti apa yang dikatakan oleh Profesor Fahmi Amhar dalam tulisannya Akhirnya
Semuanya Pernah Dicoba (9/03/2015), beliau mengatakan bahwa negeri ini
pernah dipimpin oleh berbagai tipe pemimpin dari mulai seorang politisi pejuang
revolusi, seorang bintang lima jendral TNI, seorang insinyur profesor ber-IQ tinggi, seorang karismatis bergelar Kyai Haji, seorang perempuan penuh
misteri, seorang purnawirawan yang pintar
nyanyi, hingga saat ini kita dipimpin oleh seorang anak jelata buah nyata
demokrasi tapi tidak berhasil.
Cerdas memberi Solusi
menuju kebangkitan yang hakiki
Kesalahan
dalam mendiagnosa bagi seorang dokter adalah hal yang fatal karena akan
berdampak pada treatment yang diberikan, sehingga beresiko mal praktek.
Begitupun dengan pemberian solusi yang benar akan hadir seiring dengan analisis
akar permasalahan yang benar. Permasalahan saat ini bukan terjadi hanya karena kesalahan
rezim saja melainkan kesalahan sistem. Sistem ekonomi Kapitalis yang membiarkan
neoliberalisme dan neoimprealisme hadir menghilangkan peran negara dan menyerahkan
semuanya pada individu semata, sehingga membiarkan yang miskin makin miskin dan
kaya makin kaya. Hal ini terlihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh
setiap rezim. Serta penerapan sistem politik demokrasi yang sesungguhnya hanya
ilusi “rakyat memiliki peran”, terlihat
dari adanya pemilu setiap 5 tahun tapi tidak ada perubahan yang terjadi justru
menjadi ajang penghamburan uang negara, ajang penyamaan suara penjahat dan
profesor, dan ajang maraknya money politic.
Jika
kebangkitan hakiki yang kita inginkan maka akar permasalahanlah yang harus kita
singkirkan, solusinya tidak mungkin dengan mengganti rezim saja melainkan
dengan mengganti sistem yang diterapkan saat ini.
Kebangkitan
yang hakiki dengan kembali pada Islam
Amerika dengan kapitalismenya bangkit menjadi
negara adidaya kurang lebih selama 94 tahun hingga saat ini berada dalam ambang
kehancuran, Indonesia sang penginduk kapitalisme pun mengalami kehancuran. Dan Indonesia
akan mengalami kebangkitan yang hakiki apabila mengganti sistem buatan manusia
ini dengan sistem yang berasal dari Sang Pencipta, Allah SWT, yang dilandasi
oleh pemikiran Islam karena kebangkitan itu sajalah yang mampu meningkatkan
taraf berpikir, serta tegak atas asas La Ilaha Illallah.
Fakta sejarah pun menunjukkan Islam sebagai
agama yang sesuai fitrah manusia mampu menjadi negara adidaya selama ±1300
tahun lamanya. Hadir menjamin kesejahteraan bagi muslim maupun non muslim dalam
seluruh aspek kehidupan. Hal ini bukanlah suatu hal yang mengherankan karena
Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah
Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS.
al-Anbiya: 107). Begitupun dengan Masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak seorangpun yang
dipandang berhak menerima zakat hingga beliau memerintahkan para pegawainya
berkali-kali untuk menyeru di tengah-tengah masyarakat ramai, barangkali diantara
mereka ada yang membutuhkan harta, namun tidak ada seorangpun yang memenuhi
seruannya. Begitu pun dengan non muslim, dalam hukum Islam, warga negara
Khilafah yang non-Muslim wajib dilindungi bahkan memiliki hak yang sama dengan
kaum muslim. Rasulullah saw dalam
sabdanya: “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan
jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi
surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun.” (HR.
Ahmad)
Mari
menuju Kebangkitan yang hakiki hanya dengan Islam !
Hanya
Islam sebagai solusi menuju kebangkitan hakiki untuk Indonesia, karena hal itu merupakan
sebuah keniscayaan, Allah SWT. pun menjamin tegaknya kalimat-Nya dan kehancuran
kalimat kufur, sebagaimana firman-Nya: “….dan
Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS
at-Taubah [9]: 40) . Tampaklah,
tanpa Islam bangsa ini akan makin terpuruk. Tanpa sistem Islam kondisi negeri
ini akan semakin memburuk. Karena itu, kebangkitan menuju arah yang lebih baik
adalah sebuah kebangkitan yang hakiki. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah apa yang ada dalam suatu kaum hingga kaum itu sendiri
yang mengubahnya (QS ar-Ra’du [13]: 11).
Wahai
penduduk negeri ini, sangat disayangkan bagi siapapun yang tidak mau berubah
dan nyaman mempertahankan status-quo yang buruk ini, karena nyata sistem
demokrasi dan Kapitalisme ini jelas-jelas di depan mata tampak kebobrokannya. Maka
marilah kita bangkit bergerak bersama dengan Islam untuk mewujudkan kebangkitan
yang hakiki menuju Indonesia lebih baik.
Wallahu
a’lam bi ash-shawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar