Oleh : Alfathyah Alkhoiry
Bukan hanya indah, posisi Kashmir yang berada di
tengah-tengah perbatasan tiga negara (Pakistan, India, dan China) menjadikannya
sebagai wilayah strategis secara geopolitik untuk dijadikan benteng pertahanan.
Tak heran, daerah ini menjadi rebutan beberapa negara.
Kini, India menguasai Kashmir di bagian tengah dan selatan,
Pakistan di bagian barat laut, dan China di bagian timur laut. Perebutan inilah
yang menjadi salah satu faktor bagi penduduk Kashmir untuk meminta kemerdekaan.
Namun tak mau kehilangan asset berharga, Pakistan dan India sama-sama menolak
permintaan tersebut hingga terjadilah konflik berkepanjangan sampai saat ini.
Akibat konflik tersebut, data dari Amnesty Internasional
(London) dan Asia Watch (New York-Washington) menyebutkan, sejak 1990 sampai 1999
saja, sekitar 71.204 rakyat Kashmir telah tewas dibunuh aparat India, belum
termasuk yang terluka mencapai 29.561, serta berbagai kerusakan harta benda.
Tragisnya lagi terdapat 7.613 wanita telah menjadi korban
pemerkosaan, (D.Mashad, 2004). Tentu saja korban atas konflik tersebut
bukanlah penduduk India ataupun Pakistan melainkan penduduk Kashmir yang
keberadaannya sekitar 97,16% adalah muslim.
Terlebih setelah terjadinya ledakan di jalan tol yang
menghubungkan Srinagar-Jammu, sekitar 20 kilometer dari Kota Srinagar di
wilayah Kashmir yang dikendalikan India. Serangan bunuh diri ini sedikitnya
menewaskan 40 polisi paramiliter, (bbc.com, 15/02/19). Kelompok
Jaish-e-Mohammad, organisasi teroris yang mengatasnamakan muslim mengklaim
bertanggung jawab atas serangan terparah terhadap aparat keamanan India
tersebut.
Ini menjadi sebuah pembenaran bagi India bahwa setiap ada
serangan terorisme selalu berkaitan dengan orang Islam. Padahal korban Kashmir
atas keegoisan India-Pakistan jauh lebih besar, pada tahun 1947 saja
diperkirakan 20.000-237.000 jiwa menjadi korban pembantaian India, (kiblat.net,
08/11/17). Bukankah mereka teroris yang sebenarnya? Tapi dunia hanya diam, tak
ada keadilan ataupun sanksi sosial dari pihak terdekat maupun dunia terhadap
mereka.
Kejelasan pasti atas peristiwa tersebut adalah meningkatnya
ketegangan dan tekanan terhadap warga Kashmir, khususnya pada warga muslim
Kashmir. Mereka harus rela menghadapi pengusiran dari tempat tinggal, pemecatan
kerja, serangan di media sosial, serangan dari kelompok sayap kanan Hindu,
serta para pelajar Kashmir pun harus rela di usir dari kamar asramanya.
Begitulah ketidakadilan ini terus terjadi, muslimlah yang
selalu menjadi korban utama dan Islamlah yang menjadi tersangkanya.
Permasalahan ini akan terus berlangsung hingga kita tahu bahwa akar
permasalahannya bukan hanya berkaitan perebutan wilayah saja, melainkan
berkaitan dengan perbedaan idealisme yang diemban oleh India dan Kashmir.
Awalnya, India sendiri termasuk wilayah di bawah kekuasaan
Khilafah Islamiyyah. Setelah Khilafah berhasil diruntuhkan, penjajahan Inggris
pun mencaplok wilayah tersebut dan menyerahkan kekuasaannya kepada kaum Hindu
India melalui perjanjian Amritsar. Sedangkan Kashmir adalah mayoritas muslim
yang menginginkan pemerintahan Islam. Sejak saat itu berbagai tindakan brutal
dilakukan India pada muslim Kashmir.
Permusuhan idealisme atasnama agama pun semakin nampak
ketika pihak berwenang India mengeluarkan gagasan untuk menghentikan
pembelajaran Alquran dan bahasa Arab di berbagai sekolah negeri dan
memperkenalkan bahasa Hindi sebagai bahasa wajib.
Tak hanya itu, mereka pun menggunakan media untuk
melaksanakan kampanye intensif melawan nilai-nilai Islam dalam keluarga dan
pakaian wanita, memperkenalkan alkohol, serta undang-undang perkawinan campuran
antara Muslim dan Hindu.
Sungguh kebencian mereka pada Islam telah nampak jelas.
Muslim Kashmir pun sulit keluar dari cengkaraman pembenci Islam selama mereka
dipimpin oleh sistem kufur, kaum kafir penjajah. Sebagaimana firman Allah swt, “Jika
mereka menang atas kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu, dan
melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu secara keji; dan mereka ingin
supaya kamu (kembali) kafir”, (TQS. Al-Mumtahanah : 2).
Hal ini berbeda jika Islam yang memimpin mereka, kaum kafir,
yang akan terjadi adalah kemaslahatan dan keselamatan selama mereka tunduk dan
patuh pada aturan Islam.
Sebagaimana Will Durant, Sejarawan Barat dalam bukunya, The
Story of Civilization, mengatakan bahwa "Para Khalifah telah memberikan
keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan
dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai
peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama
beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah
tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka".
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim sudah sepantasnya
kita menempatkan konflik muslim Kashmir ini sebagai konflik kaum muslim seluruh
dunia. Sehingga perlawanan atas perlakuan pembenci Islam di India pun dilakukan
bersama, yaitu dengan berpegang teguh pada Islam Ideologis serta menyebarkannya
ke seluruh penjuru dunia.
Hanya Islam Ideologislah yang mampu mempersatukan kembali
umat Islam dalam satu komando jihad atas nama pembebasan muslim Kashmir. Serta
yakinlah bahwa kemenangan hanyalah milik Islam, sekeras apapun tindakan mereka
dalam menghancurkan umat Islam, sebagaimana firman Allah swt “Dan
sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,
(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan
sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (QS. Ash-Shaffat: 171-173).
Wallahu’alam bisshawab. [MO.IP]
