Rabu, 24 Desember 2014

Inilah aku

Kelahiranku kedunia ini bukan tanpa tujuan
Semua ada yang mengatur dan mengetahui
Ini adalah jalan hidup yang kupilih
deretan puing dibelakang pun itu karena pilihanku
Keadaan saat ini pun karena pilihanku
Saat setiap orang bertanya "untuk apa aku hidup?"
Maka Islam mengatakan padaku "Hidupmu untuk beribadah"
Tak cukup sampai disana ternyata setiap jejakku pun akan dipertanggungjawabkan
 Inilah hidup
Hembusan angin, kicauan burung, air yang mengalir
menjadi saksi atas keberadaanku;
Makhluk lemah yang tak bisa mengingat beribu aktivitas
 Makhluk lemah yang meminta uluran kasih sayang Sang Maha Pengasih
Makhluk lemah yang tak tau yang terbaik, 
Tapi meminta yang terbaik pada Sang Maha Terbaik
Allah SWT

Senin, 06 Oktober 2014

TUGAS MAHASISWA : BUKAN HANYA IPK 4



       Mahasiswa. 4,8 Juta manusia di Indonesia ber-title-kan Mahasiswa, merekalah orang-orang terpilih yang berhasil, baik secara kemampuan maupun keuangan untuk meneruskan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi. Hasil survey menyatakan apabila Mahasiswa itu berusia 19-20 tahun maka hanya 18,4 persen penduduk Indonesia yang meneruskan ke Perguruan Tinggi pada tahun 2011 (Kompas.com). Ini-lah bukti bahwa hanya orang-orang terpilih saja yang mampu secara Intelektual dan Financially  yang menjadi Mahasiswa karena itulah mahasiswa menjadi tonggak kemajuan suatu bangsa bahkan bangsa ini memberikan amanah yang luar biasa kepada Mahasiswa yaitu sebagai Agent of Change, Iron Stock, Social Control, dan Problem Solving.
            Bila melirik pada sejarah, Mahasiswa bukan sosok biasa saja yang tugasnya hanya mencari ilmu duduk dibangku perkuliahan demi tercapainya Indeks Penilaian Komulatif (IPK) 4 tetapi Mahasiswa pun merupakan agen pergerakan bangsa dengan ditandai oleh kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Begitupun dengan sumpah pemuda pada tahun 1928 sebagai lambang kesatuan bangsa, perjuangan fisik dan proklamasi kemerdekaan 1945, Tritura dan runtuhnya rezim orde lama tahun 1966, aksi reformasi dan tragedi semanggi tahun 1998 pun menjadi tanda bahwa mahasiswa merupakan satu-satunya sosok yang bisa mengontrol kalangan atas (pemerintah) dan penolong kalangan bawah (rakyat).
            Keadaan Indonesia pada saat ini sedang mengalami keterpurukan yang luar biasa dari mulai kemiskinan, kekayaan yang dikuasai asing hampir 85%, keterbelakangan dalam pendidikan, dekadensi moral, bahkan busung lapar adalah hal-hal yang menghantui indonesia saaat ini.  Akankah Mahasiswa bangkit kembali mengeluarkan bangsa Indonesia dari kondisi terpuruk  layaknya ketika mereka bangkit memproklamasikan Indonesia? Kebangkitan suatu golongan ataupun individu dapat terlihat dari pemikiran yang mereka bawa. Begitupun dengan kebangkitan Indonesia itu dapat terlihat dari pemikiran dan aktivitas Mahasiswanya, apabila Mahasiswa membawa pemikiran pragmatis maka berbagai solusi pun akan pragmatis, namun apabila Mahasiswa membawa pemikiran yang radikal (mendalam) dan cemerlang, maka Mahasiswa pun akan menuntaskan problematika hingga ke akarnya. Di era globalisasi dan kemajuan zaman saat ini, sayang nya Mahasiswa banyak yang berpikir pragmatis. “Jika ada yang kelaparan maka beri makan” itulah yang mereka lakukan cukup sampai disana, tidak menindaklanjuti pada tataran “Mengapa ada yang kelaparan? Apa yang salah?” hingga solusi tuntas dan kelaparan bisa terjamin ketidakadaannya.
            Kondisi Indonesia sebagai negera yang mayoritas penduduknya muslim, sangatlah mudah untuk menuju kebangkitan karena solusi tuntas problematika saat ini dimiliki oleh Islam. Islam sebagai agama yang sempurna menawarkan solusi tuntas yaitu dengan penerapan hukum-hukumnya dalam sebuah Institusi yaitu Khilafah Islamiyyah. Maka sudah selayaknya Mahasiswa merubah arah pergerakannya yang pragmatis, pengusung demokrasi menjadi pergerakan radikal dan cemerlang dengan pengusung Khilafah Islamiyyah.
Wahai Mahasiswa Indonesia, kebangkitan negeri Indonesia ini bisa terjadi hanya jika Mahasiswa tidak hanya memiliki IPK 4 tetapi Mahasiswa pun berpikir radikal dan cemerlang dengan mengusung Syariah dan Khilafah Islamiyyah.
Wallah a’lam bi ash-shawab.

Minggu, 07 September 2014

Pemuda Sang Penentu Perubahan



        Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam harapan untuk menyelesaikan segala problematika yang dihadapi bangsanya. Begitu  besar kepercayaan masyarakat terhadap pemuda. Banyak sekali moment perubahan yang dilakukan oleh para pemuda di sepanjang sejarah. Tahun 1998, Pemuda berhasil memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya melalui pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, kemerdekaan diawali oleh para pemuda yang terus mendesak untuk melakukan proklamasi kemerdekaan,  Bung Tomo seorang pemuda dengan retorika yang sangat dahsyat mampu menggerakkan dan membakar pemuda-pemuda yang ada di Surabaya untuk melakukan pergerakan yang luar biasa. Dr. Yusuf Al-Qardhawi mengibaratan pemuda itu seperti jam 12 siang yang sedang panas-panasnya, sedang menggeliat hebat, memiliki  fisik yang kuat, pemikiran yang cemerlang, serta idealisme yang tinggi. Itulah pemuda.
Namun sungguh sangat disayangkan, kondisi pemuda saat ini terpuruk., Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi oleh  pemuda di Indonesia mencapai 1-1,5 juta, Pemuda pengguna narkoba sekitar 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang, (Kompas.com). Itulah pemuda saat ini, hasil didikan Kapitalisme Demokrasi-Liberal yang akhirnya membunuh perlahan pola pikir cemerlang pemuda menjadi sosok apatis, apolitis, hedonis, tanpa ia mengetahui jati dirinya sebagai sosok pemuda yang sebenarnya. Permasalahan yang ada dalam kehidupan saat ini bukan hanya permasalahan pemuda seperti yang dicontohkan diatas, tapi banyak sekali permasalahan yang lain seperti kelaparan dan krisis pangan, bencana alam, mahalnya harga pangan, sempitnya lapangan kerja, sistem pendidikan, pengelolaan BBM, kemiskinan, korupsi, dan krisis ekonomi. Permasalahan-permasalahan yang ada merupakan permasalahan yang saling berkaitan (sistematis). Bagaimana untuk menyelesaikan berbagai persoalan ini? Kaum pemuda dengan keintelektualannya seharusnya berpikir secara rasional mengenai akar permasalahan sistematis yang ada saat ini di mana akar permasalahannya adalah penerapan sistem buatan manusia yaitu Kapitalis dan tidak menerapkannya sistem dari sang pencipta yaitu Allah SWT. Sehingga solusi mendasar untuk menyelesaikan problematika yang ada adalah dengan menerapkan aturan islam dalam kehidupan secara totalitas dan kaum pemuda dengan ilmu yang dimilikinya bisa berkontribusi untuk umat dalam melakukan perubahan besar menuju penerapan syari’ah islam dalam naungan khilafah.
Wahai pemuda sang pemegang peradaban, ketahuilah jati dirimu yang sebenarnya adalah dengan menjadi dokter untuk umat ini dengan mengerahkan segala potensi diri untuk melakukan perubahan besar dunia menuju khilafah.
Wallahu’alam bi ash-showab

Sabtu, 09 Agustus 2014

HIDUP BUKAN HANYA DI BULAN RAMADHAN



           Ramadhan. Memasuki bulan Ramadhan banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai bentuk seperti tontonan televisi “Pacaran” berubah mejadi “Ta’aruf”, “lagu galau” menjadi “lagu Islami, begitupun dengan fenomena di mesjid “kosong” menjadi “penuh”, “sepi dengan tilawah” menjadi “ramai dengan tilawah”, perempuan pun berubah dari “berpakaian seksi” menjadi berbondong-bondong menggunakan “hijab”, panti asuhan pun sesak dengan pemberi santunan, berbagai kegiatan agama yang hanya dilakukan dibulan ramadhan pun (pesantren kilat) dilakukan oleh lembaga-lembaga seperti sekolah, mesjid, pemerintahan, dan masih banyak lagi fenomena perubahan si Hitam berubah menjadi si Putih yang terjadi di bulan Ramadhan.
            Fenomena tersebut adalah bukti bahwa mereka meyakini bahwa bulan Ramadhan bukanlah bulan biasa tetapi bulan yang penuh keberkahan di mana pahala setiap amal kebaikan dilipat gandakan, Imam Thabrani meriwayatkan suatu hadits dari sahabat Ubadah bin Shamit r.a. yang menyatakan bahwa suatu hari di bulan Ramadhan Rasulullah saw. bersabda:  “Telah datang bulan Ramadhan kepada kalian, bulan barakah yang di dalamnya Allah mendatangi kalian.  Maka turunlah rahmat.  Dan dihapuskanlah kesalahan-kesalahan. Di bulan itu Allah mengabulkan doa.  Di bulan itu Allah melihat (memperhatikan) perlombaan di antara kalian.  Dan Allah membanggakan kalian kepada para malaikatNya.  Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan sebab orang yang celaka adalah yang tidak mendapatkan rahmat  Allah di dalamnya “. Begitu pun dengan lipat ganda amal ibadah Rasulullah saw bersabda : “Segala amal kebajikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali lipat.  Allah berfirman: ‘kecuali puasa, puasa itu untukKu dan Aku (sendiri) yang akan mem- berikan pahala kepadanya.  Dia telah meninggalkan syahwat dan makan minum lantaran Aku’…” (HR. Muslim). Peristiwa berlomba-lomba dalam kebaikan pun hanya terjadi dalam waktu satu bulan, bulan Ramdhan. Setelah Ramdhan berlalu maka fenomena perubahan pun kembali berubah dari si Putih menjadi si Hitam, mesjid-mesjid pun kembali kosong, statiun televisi pun kembali liberal, aurat pun dipertontonkan kembali.        
            Begitu rapuhkah keimanan kita sebagai kaum muslim? Padahal kita akan di hisab  di setiap detik yang kita lakukan, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36). Kenapa hal itu terjadi begitu sebentar? Bukankah kita hidup bukan hanya dibulan Ramadhan saja tetapi dibulan-bulan lainnya juga? Ya, sudah seharusnya kita senantiasa melakukan ibadah secara keseluruhan (bukan hanya ibadah ritual saja) di setiap detiknya bukan hanya di Bulan Ramadhan saja. Sehingga penjaminan pelaksanaan ibadah keseluruhan pun sangat kita perlukan pada setiap detiknya, inilah yang menjadikan keberadaan negara yang menjungjung Islam sebagai pengatur yaitu Khilafah menjadi wajid adanya. Karena umat muslim akan hina dunia dan akhirat ketika berada dalam naungan negara sekuler-liberal yang hanya mengijinkan umat muslim ibadah ritual saja dan menjadikan kaum muslim baik hanya ketika bulan Ramadhan saja.
            Wahai kaum muslim, kita hidup bukan hanya di Bulan Ramadhan saja dan kita hidup bukan hanya untuk ibadah ritual, kita hidup di setiap detiknya untuk beribadah kepada Allah secara menyeluruh. Maka wajib bagi kita sebagai kaum muslim berjuang menegakan kembali Khilafah Islamiyah yang mampu memuliakan kaum muslim dunia dan akhirat karena hanya negara Khilafah Islamiyah  saja lah yang menjungjung tinggi hukum-hukum Islam (Al-Quran dan Assunah). Bila Rasulullah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan pembebasan kota Makkah (20 Ramadhan 8 H), pembebasan Sind, India (6 Ramadhan 92 H), pembebasan Andalusia (awal Ramadhan 91 H), maka kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan pembebasan seluruh umat muslim didunia dengan penegakan kembali Khilafah Islamiyah.
Wallah a’lam bi ash-shawab.