Ramadhan.
Memasuki bulan Ramadhan banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai bentuk
seperti tontonan televisi “Pacaran” berubah mejadi “Ta’aruf”, “lagu galau”
menjadi “lagu Islami, begitupun dengan fenomena di mesjid “kosong” menjadi
“penuh”, “sepi dengan tilawah” menjadi “ramai dengan tilawah”, perempuan pun
berubah dari “berpakaian seksi” menjadi berbondong-bondong menggunakan “hijab”,
panti asuhan pun sesak dengan pemberi santunan, berbagai kegiatan agama yang
hanya dilakukan dibulan ramadhan pun (pesantren kilat) dilakukan oleh
lembaga-lembaga seperti sekolah, mesjid, pemerintahan, dan masih banyak lagi
fenomena perubahan si Hitam berubah menjadi si Putih yang terjadi di bulan Ramadhan.
Fenomena tersebut adalah bukti bahwa mereka meyakini
bahwa bulan Ramadhan bukanlah bulan biasa tetapi bulan yang penuh keberkahan di
mana pahala setiap amal kebaikan dilipat gandakan, Imam Thabrani meriwayatkan
suatu hadits dari sahabat Ubadah bin Shamit r.a. yang menyatakan bahwa suatu
hari di bulan Ramadhan Rasulullah saw. bersabda: “Telah datang bulan
Ramadhan kepada kalian, bulan barakah yang di dalamnya Allah mendatangi
kalian. Maka turunlah rahmat. Dan dihapuskanlah kesalahan-kesalahan.
Di bulan itu Allah mengabulkan doa. Di bulan itu Allah melihat
(memperhatikan) perlombaan di antara kalian. Dan Allah membanggakan
kalian kepada para malaikatNya. Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan
sebab orang yang celaka adalah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di
dalamnya “. Begitu
pun dengan lipat ganda amal ibadah Rasulullah saw bersabda : “Segala
amal kebajikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali
lipat. Allah berfirman: ‘kecuali puasa, puasa itu untukKu dan Aku
(sendiri) yang akan mem- berikan pahala kepadanya. Dia telah meninggalkan
syahwat dan makan minum lantaran Aku’…” (HR. Muslim). Peristiwa berlomba-lomba
dalam kebaikan pun hanya terjadi dalam waktu satu bulan, bulan Ramdhan. Setelah
Ramdhan berlalu maka fenomena perubahan pun kembali berubah dari si Putih
menjadi si Hitam, mesjid-mesjid pun kembali kosong, statiun televisi pun
kembali liberal, aurat pun dipertontonkan kembali.
Begitu rapuhkah keimanan
kita sebagai kaum muslim? Padahal kita akan di hisab di setiap detik yang kita lakukan, “Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.”
(QS. Al Isra’:
36). Kenapa hal itu terjadi begitu sebentar? Bukankah kita hidup bukan hanya dibulan
Ramadhan saja tetapi dibulan-bulan lainnya juga? Ya, sudah seharusnya kita
senantiasa melakukan ibadah secara keseluruhan (bukan hanya ibadah ritual saja)
di setiap detiknya bukan hanya di Bulan Ramadhan saja. Sehingga penjaminan
pelaksanaan ibadah keseluruhan pun sangat kita perlukan pada setiap detiknya, inilah
yang menjadikan keberadaan negara yang menjungjung Islam sebagai pengatur yaitu
Khilafah menjadi wajid adanya. Karena umat muslim akan hina dunia dan akhirat
ketika berada dalam naungan negara sekuler-liberal yang hanya mengijinkan umat
muslim ibadah ritual saja dan menjadikan kaum muslim baik hanya ketika bulan
Ramadhan saja.
Wahai kaum muslim, kita hidup bukan hanya di Bulan
Ramadhan saja dan kita hidup bukan hanya untuk ibadah ritual, kita hidup di
setiap detiknya untuk beribadah kepada Allah secara menyeluruh. Maka wajib bagi
kita sebagai kaum muslim berjuang menegakan kembali Khilafah Islamiyah yang
mampu memuliakan kaum muslim dunia dan akhirat karena hanya negara Khilafah
Islamiyah saja lah yang menjungjung
tinggi hukum-hukum Islam (Al-Quran dan Assunah). Bila Rasulullah menjadikan
bulan Ramadhan sebagai bulan pembebasan kota Makkah (20 Ramadhan 8 H),
pembebasan Sind, India (6 Ramadhan 92 H), pembebasan Andalusia (awal Ramadhan
91 H), maka kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan pembebasan seluruh
umat muslim didunia dengan penegakan kembali Khilafah Islamiyah.
Wallah
a’lam bi ash-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar