Sabtu, 09 Agustus 2014

HIDUP BUKAN HANYA DI BULAN RAMADHAN



           Ramadhan. Memasuki bulan Ramadhan banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai bentuk seperti tontonan televisi “Pacaran” berubah mejadi “Ta’aruf”, “lagu galau” menjadi “lagu Islami, begitupun dengan fenomena di mesjid “kosong” menjadi “penuh”, “sepi dengan tilawah” menjadi “ramai dengan tilawah”, perempuan pun berubah dari “berpakaian seksi” menjadi berbondong-bondong menggunakan “hijab”, panti asuhan pun sesak dengan pemberi santunan, berbagai kegiatan agama yang hanya dilakukan dibulan ramadhan pun (pesantren kilat) dilakukan oleh lembaga-lembaga seperti sekolah, mesjid, pemerintahan, dan masih banyak lagi fenomena perubahan si Hitam berubah menjadi si Putih yang terjadi di bulan Ramadhan.
            Fenomena tersebut adalah bukti bahwa mereka meyakini bahwa bulan Ramadhan bukanlah bulan biasa tetapi bulan yang penuh keberkahan di mana pahala setiap amal kebaikan dilipat gandakan, Imam Thabrani meriwayatkan suatu hadits dari sahabat Ubadah bin Shamit r.a. yang menyatakan bahwa suatu hari di bulan Ramadhan Rasulullah saw. bersabda:  “Telah datang bulan Ramadhan kepada kalian, bulan barakah yang di dalamnya Allah mendatangi kalian.  Maka turunlah rahmat.  Dan dihapuskanlah kesalahan-kesalahan. Di bulan itu Allah mengabulkan doa.  Di bulan itu Allah melihat (memperhatikan) perlombaan di antara kalian.  Dan Allah membanggakan kalian kepada para malaikatNya.  Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan sebab orang yang celaka adalah yang tidak mendapatkan rahmat  Allah di dalamnya “. Begitu pun dengan lipat ganda amal ibadah Rasulullah saw bersabda : “Segala amal kebajikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali lipat.  Allah berfirman: ‘kecuali puasa, puasa itu untukKu dan Aku (sendiri) yang akan mem- berikan pahala kepadanya.  Dia telah meninggalkan syahwat dan makan minum lantaran Aku’…” (HR. Muslim). Peristiwa berlomba-lomba dalam kebaikan pun hanya terjadi dalam waktu satu bulan, bulan Ramdhan. Setelah Ramdhan berlalu maka fenomena perubahan pun kembali berubah dari si Putih menjadi si Hitam, mesjid-mesjid pun kembali kosong, statiun televisi pun kembali liberal, aurat pun dipertontonkan kembali.        
            Begitu rapuhkah keimanan kita sebagai kaum muslim? Padahal kita akan di hisab  di setiap detik yang kita lakukan, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36). Kenapa hal itu terjadi begitu sebentar? Bukankah kita hidup bukan hanya dibulan Ramadhan saja tetapi dibulan-bulan lainnya juga? Ya, sudah seharusnya kita senantiasa melakukan ibadah secara keseluruhan (bukan hanya ibadah ritual saja) di setiap detiknya bukan hanya di Bulan Ramadhan saja. Sehingga penjaminan pelaksanaan ibadah keseluruhan pun sangat kita perlukan pada setiap detiknya, inilah yang menjadikan keberadaan negara yang menjungjung Islam sebagai pengatur yaitu Khilafah menjadi wajid adanya. Karena umat muslim akan hina dunia dan akhirat ketika berada dalam naungan negara sekuler-liberal yang hanya mengijinkan umat muslim ibadah ritual saja dan menjadikan kaum muslim baik hanya ketika bulan Ramadhan saja.
            Wahai kaum muslim, kita hidup bukan hanya di Bulan Ramadhan saja dan kita hidup bukan hanya untuk ibadah ritual, kita hidup di setiap detiknya untuk beribadah kepada Allah secara menyeluruh. Maka wajib bagi kita sebagai kaum muslim berjuang menegakan kembali Khilafah Islamiyah yang mampu memuliakan kaum muslim dunia dan akhirat karena hanya negara Khilafah Islamiyah  saja lah yang menjungjung tinggi hukum-hukum Islam (Al-Quran dan Assunah). Bila Rasulullah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan pembebasan kota Makkah (20 Ramadhan 8 H), pembebasan Sind, India (6 Ramadhan 92 H), pembebasan Andalusia (awal Ramadhan 91 H), maka kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan pembebasan seluruh umat muslim didunia dengan penegakan kembali Khilafah Islamiyah.
Wallah a’lam bi ash-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar