Senin, 01 Oktober 2018

Kebangkitan Hakiki menuju Indonesia Lebih Baik




 Indonesia adalah negeri yang penuh pesona keindahan alamnya, kaya akan tambang, tumbuhan dan buah-buahan, bahkan jika tongkat terlempar ke negeri ini, ia akan tumbuh jadi pohon karena sangat suburnya tanah ini. Tapi kekayaan negeri ini belum bisa dirasakan oleh mayoritas penduduk Indonesia. Kasus bunuh diri dan bunuh keluarga karena jeratan ekonomi terus terjadi; kriminalitas seperti pencurian, pencopetan, pembegalan pun terjadi karena tingginya tuntutan ekonomi sedangkan lapangan pekerjaan tidak ada. Yah, negeri ini sedang dikepung berbagai persoalan sehingga kebangkitan negeri ini pun menjadi hal yang senantiasa digemakan oleh berbagai kalangan.

Semuanya pernah dicoba tapi tidak berhasil
Solusi menuju kebangkitan digemakan seiring bergantinya tahun dan bergantinya rezim tapi hingga saat ini belum ada yang berhasil. Di mulai dari tahun 1995, Indonesia berambisi mewujudkan kebangkitan dengan adanya Pemilu, namun pasca pemilu kondisi politik justru syarat dengan konflik, akibatnya pemilu yang dijadwalkan tahun 1960 tidak terlaksana dan setelah itu pemilu berjalan 5 tahun sekali. Kemudian munculah pergerakan mahasiswa dalam gerakan reformasi tahun 1998 yang hanya menuntut pergantian rezim Soeharto dan saat itu mahasiswa melupakan kontruksi negara yang ingin dibangun pasca reformasi tersebut sehingga ini pun tidak berhasil. Saat itu munculah BJ Habibie sebagai Presiden Indonesia dengan kabinetnya yaitu kabinet reformasi pembangunan era Habibie, namun rezim ini terjerat oleh kasus lepasnya Timor-timor maka muncullah Reformasi jilid II layaknya Reformasi jilid I yang tidak berhasil.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pun muncul sebagai presiden yang membuka jalan hadirnya kebijakan pluralisme dan keterbukaan, serta memperbolehkan komunis hidup. Setelah  rezim Gus Dur berakhir, tampuk kekuasaan RI dipegang oleh Presiden Megawati yang menjadi rezim penjual perusahaan BUMN ke pihak asing dan kasus BLBI yang menimbulkan kerugian terhadap negara jauh lebih besar dari Century. Tahun 2009-2014, Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menguasai Indonesia dan yang terjadi korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang seharusnya dibasmi seperti yang dilantangkan pemuda dan mahasiswa pada era reformasi 1998, malah tumbuh subur di rezim SBY. Dan saat ini kita di pimpin oleh rezim Kabinet Kerja Jokowi yang terkenal blusukannya dan pro rakyat kecil tapi tanpa belas kasihan, Presiden baru harapan rakyat itu justru  membuat kebijakan baru yang menyengsarakan rakyat seperti privatisasi oleh swasta/asing atas sektor publik yaitu migas, listrik, jalan tol dan lainnya; pencabutan subsidi komoditas strategis seperti migas, listrik, pupuk dan lainnya; penghilangan hak-hak istimewa BUMN melalui berbagai ketentuan dan perundang-undangan yang menyetarakan BUMN dengan usaha swasta.
Nyatanya sepakat seperti apa yang dikatakan oleh Profesor Fahmi Amhar dalam tulisannya Akhirnya Semuanya Pernah Dicoba (9/03/2015), beliau mengatakan bahwa negeri ini pernah dipimpin oleh berbagai tipe pemimpin dari mulai seorang politisi pejuang revolusi, seorang bintang lima jendral TNI, seorang insinyur profesor ber-IQ tinggi, seorang karismatis bergelar Kyai Haji, seorang perempuan penuh misteri, seorang purnawirawan yang pintar nyanyi, hingga saat ini kita dipimpin oleh seorang anak jelata buah nyata demokrasi tapi tidak berhasil.

Cerdas memberi Solusi menuju kebangkitan yang hakiki
Kesalahan dalam mendiagnosa bagi seorang dokter adalah hal yang fatal karena akan berdampak pada treatment yang diberikan, sehingga beresiko mal praktek. Begitupun dengan pemberian solusi yang benar akan hadir seiring dengan analisis akar permasalahan yang benar. Permasalahan saat ini bukan terjadi hanya karena kesalahan rezim saja melainkan kesalahan sistem. Sistem ekonomi Kapitalis yang membiarkan neoliberalisme dan neoimprealisme hadir menghilangkan peran negara dan menyerahkan semuanya pada individu semata, sehingga membiarkan yang miskin makin miskin dan kaya makin kaya. Hal ini terlihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh setiap rezim. Serta penerapan sistem politik demokrasi yang sesungguhnya hanya ilusi “rakyat  memiliki peran”, terlihat dari adanya pemilu setiap 5 tahun tapi tidak ada perubahan yang terjadi justru menjadi ajang penghamburan uang negara, ajang penyamaan suara penjahat dan profesor, dan ajang maraknya money politic. 
Jika kebangkitan hakiki yang kita inginkan maka akar permasalahanlah yang harus kita singkirkan, solusinya tidak mungkin dengan mengganti rezim saja melainkan dengan mengganti sistem yang diterapkan saat ini.

Kebangkitan yang hakiki dengan kembali pada Islam
Amerika dengan kapitalismenya bangkit menjadi negara adidaya kurang lebih selama 94 tahun hingga saat ini berada dalam ambang kehancuran, Indonesia sang penginduk kapitalisme pun mengalami kehancuran. Dan Indonesia akan mengalami kebangkitan yang hakiki apabila mengganti sistem buatan manusia ini dengan sistem yang berasal dari Sang Pencipta, Allah SWT, yang dilandasi oleh pemikiran Islam karena kebangkitan itu sajalah yang mampu meningkatkan taraf berpikir, serta tegak atas asas La Ilaha Illallah.
Fakta sejarah pun menunjukkan Islam sebagai agama yang sesuai fitrah manusia mampu menjadi negara adidaya selama ±1300 tahun lamanya. Hadir menjamin kesejahteraan bagi muslim maupun non muslim dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini bukanlah suatu hal yang mengherankan karena Allah SWT berfirman:  “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya: 107). Begitupun dengan Masa khalifah Umar  bin Abdul Aziz, tidak seorangpun yang dipandang berhak menerima zakat hingga beliau memerintahkan para pegawainya berkali-kali untuk menyeru di tengah-tengah masyarakat ramai, barangkali diantara mereka ada yang membutuhkan harta, namun tidak ada seorangpun yang memenuhi seruannya. Begitu pun dengan non muslim, dalam hukum Islam, warga negara Khilafah yang non-Muslim wajib dilindungi bahkan memiliki hak yang sama dengan kaum muslim.  Rasulullah saw dalam sabdanya: “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun.”  (HR. Ahmad)

Mari menuju Kebangkitan yang hakiki hanya dengan Islam !
Hanya Islam sebagai solusi menuju kebangkitan hakiki untuk Indonesia, karena hal itu merupakan sebuah keniscayaan, Allah SWT. pun menjamin tegaknya kalimat-Nya dan kehancuran kalimat kufur, sebagaimana firman-Nya: “….dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS at-Taubah [9]: 40) . Tampaklah, tanpa Islam bangsa ini akan makin terpuruk. Tanpa sistem Islam kondisi negeri ini akan semakin memburuk. Karena itu, kebangkitan menuju arah yang lebih baik adalah sebuah kebangkitan yang hakiki. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada dalam suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya (QS ar-Ra’du [13]: 11).

Wahai penduduk negeri ini, sangat disayangkan bagi siapapun yang tidak mau berubah dan nyaman mempertahankan status-quo yang buruk ini, karena nyata sistem demokrasi dan Kapitalisme ini jelas-jelas di depan mata tampak kebobrokannya. Maka marilah kita bangkit bergerak bersama dengan Islam untuk mewujudkan kebangkitan yang hakiki menuju Indonesia lebih baik.

Wallahu a’lam bi ash-shawab