Rabu, 28 September 2016

Jatuh Cinta Jika Tetap pada Aturan-Nya



Jika hari ini begitu banyak seseorang yang memamerkan perhatiannya pada lawan jenis yang ia sukai kemudian tanpa rasa bersalah semua perhatiannya ia tujukan pada sosok tersebut...
Mereka berbicara cinta tanpa memandang aturan sang pencipta mengenai pemisahan hubungan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan....

Bukankah aneh untuk saat ini jika ia suka kemudian ia hanya berkata
"Apakabar?"
"Baik, kamu?"
"Sama, baik juga"
Selesai

"Mau kemana?"
"Pulang"
Selesai

"Boleh pinjam bukunya?"
"Silakan"
"Terimakasih"
Selesai*

Memang itu aneh tapi bagi sebagian orang yang percaya pada aturan-Nya dan percaya akan indah suatu hari nanti maka itu adalah sebuah penjagaan akan kesucian dan keberkahan sebuah ikatan...

Wallahu'alam

*kurniawan gunadi-lautan langit

Selasa, 30 Agustus 2016

Kekuatan Tekad

     Kuliah- Menyelesaikan perkuliahan merupakan cita-cita dari setiap Mahasiswa karena setelah selesai kuliah pasti ada hal lain yang harus diselesaikan juga. Hal inilah yang menjadi salah satu tekad diri untuk menyelesaikan kuliah secepatnya.
     Perjalanan menyelesaikan perkuliahan pun dimulai dari penelitian. Penelitian ini dilakukan pada beberapa lereng yang lumayan tinggi dan butuh bantuan beberapa orang termasuk beberapa orang laki-laki. That're out of my box ternyata bisa ke lapangan sebanyak 4 kali. Lagi-lagi kalo dikatakan pergi ke lapangan dan bergaul dengan laki-laki maka pergolakan ketaatanlah yang dipertaruhkan. Alhamdulillah dengan bantuan dari beberapa temen-temen terjagalah, dari mulai mengusahakan pakai motor sendiri sekalipun pergi ke daerah curam, tawakaltu'alallah.....
    Berlanjut penelitian di laboratorium yang lumayan panjang, kurang lebih ada 8 pengujian untuk setiap sampel yang diambil dari lapangan. Kalo ke lapangan tantangannya medan yang terjal, nah kalo di laboratorium tantangannya yaitu alat, ketelitian, dan waktu. Hampir 3 bulan waktu yang diperlukan untuk pengujian. Pertama, alatnya dipake yang lain yang lagi nguji 60 sampel "wow kapan beresnya" dalam hati, alhasil target selesai satu bulan jadi tiga bulan. Itu bukan tantangan berat tinggal melaju terus selama masih ada hal lain yang bisa dikerjakan di laboratorium. Kedua, Kalo salah sampel atau salah caranya bisa jadi diulang lagi, it's about carefulness. Ketiga, waktu yang terus berlalu hingga terkadang hari sabtu atau minggu ke Lab, kadang ke Lab cuman ngeremdem tanah doang atau ngeluarin tanah dari oven doang, but it's not problem semuanya ngga ada yang sia-sia...
     Next yaitu pengolahan data, disinilah titik-titik yang crucial. Salah data bisa jadi hasil jelak, ini yang paling ditakutkan. Tapi hal itu ngga terjadi. Cuman harus siap jungkir balik kalo salah yah benerin hhee... sampai bikin 200 pemodelan dan salah terus bikin lagi 200 dan yang dipake cuman 32 model. Inilah mengolah data.
    Then, pas nyusun pun luar biasa make me so feel hard, undistrub sama disturb aja sampe kebalik, nilai berat isi bahan longsor juga kebalik sama bidang gelincir...tapi disini jugalah sensasinya... juga bulak-balik ke pembimbing...
   Setelah menghadap kepada dua pembimbing yang luar biasa. Keduanya melancarkan untuk melakukan ujian sidang. Waktu itu ada dua pilihan yaitu daftar sidang atau mundur. Kalo daftar berarti siap-siap dikasih sesuatu oleh dosen penguji kalo ngga daftar siapsiap nambah satu bulan buat kelarin. Dengan dorongan dari pembimbing, pergilah daftar sidang. "Kalo rizki aku sidang, Kalo bukan rizki yah berarti ngga sidang", it's simple mind. Dengan kekuatan pemikiran itu maka daftarlah sidang. Saat daftar, trouble yang luarbiasa melelahkan dimulai. Proses telaah, persiapan berkas, entry data dll. Then, crucial too yaitu pengisian draf telaah dengan format baru jadi harus ganti lagi-lah. Hoh, bikin tarik nafas terus-terusin.... H-beberapa hari baru lah dipastikan terdaftar sebagai peserta sidang dan sudah ada jadwal ujiannya yaitu Jumat, 26 Agustus 2016 jam 14.00 @Lab LFL.
   Setelah itu apakah berakhir ke crucial-an? No, semuanya malah lebih crucial, seakan-akan kepala mau meledak. Bahkan H-1 jam 21.00 di rumah dosen kita memutuskan sesuatu keputusan yang besar mengenai penelitian ini, then jam 13.55 kita diskusi kembali dengan dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 dan jam 14.00 sidang dimulai... Yah, dan luarbiasanya ternyata semuanya telah berakhir. Sidang telah selesai maka tanda berakhirnya perkuliahan, Alhamdulillah 'ala kuli hal.
   Pelajaran dari pengalaman ini adalah kekuatan tekad. Kita harus berani mengambil keputusan dengan resiko yang tinggi karena itulah yang harus kita hadapi jika ingin sesuai target. Namun jangan lupakan berdoa kepada Allah meminta yang terbaik dari segala keputusan tersebut. Jangan pantang menyerah karena hidup kita ada dalam genggaman kita (diranah yang bisa kita usahakan). Kalo hari ini kita memilih mundur tidak menghadapi tantangan maka bisa jadi selamanya kita tidak bisa menyelesaikan tantangan itu. So, hadapi dan berdoalah pada Allah.

Jumat, 22 Juli 2016

Pelajaran Kematian




Kematian bisa hadir kapanpun tanpa bisa kita duga, 
Ia begitu dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat leher.. 
Ia mengintai setiap makhluk yang bernyawa...
Hal yang wajar ketika kematian menyapa maka orang-orang disekitarnya menangis, sedih ditinggal oleh Almarhum...
Ini yang seharusnya kita sesali dan tangisi yaitu
ketika kita belum memaksakan seluruh kebaikan diperbuat olehnya(?)
ketika kita belum 'memukulnya' ketika ia melanggar hukum syara(?)
ketika kita belum menjebloskannya dari berbagai sisi menuju surga selama ia hidup(?)
Maka pelajarannya bagi siapapun yang masih hidup termasuk diri ini adalah
Sudahkah kita memaksakan seluruh kebaikan diperbuat olehnya(?)
 Sudahkah kita 'memukulnya' ketika ia melanggar hukum syara(?)
Sudahkah kita menjebloskannya dari berbagai sisi menuju surga selama ia hidup(?)
Dan saatnya berpikir ketika ada saudara yang mengingatkan akan hukum syara, betapa harus bersyukur.... Sungguh mereka menginginkan yang terbaik untuk kita, mereka menginginkan jika kematian datang maka ia menjemput dalam keadaan khusnul khatimah....
Karena itu senantiasalah berada disekeliling orang-orang yang sholeh, orang-orang yang senantiasa menjaga kita dari hukum syara...
Jangan pernah berpikir menjauh darinya walaupun hanya satu langkah....
Bagi seorang ibu, seorang ayah, seorang istri, seorang suami, seorang kakak, seorang adik, seorang saudara... Optimalkanlah diri untuk mengkaji Islam dan menjadi penjaga hukum syara bagi orang sekeliling kita terutama keluarga kita.... Jangan biarkan kematian menakuti kita tapi kata tolerir begitu banyak terucap dari mulut kita untuk diri maupun orang lain...


#‎Nasihat‬ untuk diri dalam rangka meminta pengingatan
-Tia Miftahul Khoiriyah-

Mencari Kekuatan


Ada orang untuk melangsungkan hidupya, Ia mencari-cari kekuatan
Ada orang untuk menyelesaikan studinya pun, Ia mencari-cari kekuatan
Hingga Ia katakan 'beristirahat sejenak mencari kekuatan'
'Karena aku tak punya kekuatan'
Tak sadarkah bahwa kekuatan yang dicari itu begitu dekat...
Sangat dekat dengan diri...Yah, Rabb nya...
Tak cukupkah nikmat sehat nikmat cerdas nikmat akal dan nikmat sempurnanya anggota tubuh dari Allah SWT menjadi alasan untuk kuat menghadapi permasalahan?
Tak cukupkah ibu dan ayah yang selalu berjuang disamping kita menjadi sebuah alasan untuk kuat?
Tak cukupkah kakak dan adikadik kita menjadi sebuah alasan untuk kuat?
CUKUP BUANG semua cara mencari kekuatan palsu, kekuatan dari luar yang tidak hakiki... Misal kekuatan dari pacar yang jelas itu Bukan Menguatkan Melainkan Merusak

Sabtu, 26 Maret 2016

Islam, Pemilu, dan Kepedulian terhadap Rakyat



Oleh : Tia Miftahul Khoiriyah (Aktivis Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia)
             Indonesia, negeri yang dihuni oleh mayoritas  kaum muslim ini akan menyelanggarakan pesta demokrasi pada tanggal 9 Desember 2015. Tepatnya pemilu (pilkada) ini dilakukan serentak di seluruh kota untuk memilih walikota ataupun bupati yang sesuai dengan harapan rakyat.  Alih-alih mendapatkan pemimpin yang ideal serta mampu mengayomi rakyat malah menghabiskan modal yang begitu besar. Bahkan Pemilihan umum kepala daerah ini pun membebani keuangan sejumlah daerah. Lihat saja, Kalimantan Tengah tahun 2010 menghabiskan 70 miliar dan di tahun ini diprediksi mencapai 102 milyar, (Kompas, 2015/06/03).
            Besarnya materi yang dikeluarkan saat kampanye menjadi salah satu target untuk menjadikan jabatan sebagai tempat kembalinya modal. Masa jabatan yang terbatas hanya 5 tahun menjadikan aktifitas kejar tayang pemenuhan akan kembalinya uang kampenye pun bukan hal asing yang dilakukan oleh para anggota maupun partai politik yang tergabung dalam parlemen. LPEM UI menyatakan bahwa biaya pencalegan untuk DPR itu adalah 1,18–4,6 miliyar adalah hal yang wajar, (kompasiana, 24 Juni 2015). Jika kita ambil tengah angka wajar maka setiap tahun harus menghasilkan 600 jt atau 50 jt/bulan. Sedangkan gaji seorang bupati atau walikota adalah sebesar 5,8 jt ditambah dengan Pajak dan Retribusi Daerah bersangkutan (PP 69 tahun 2010) hingga total gaji minimal adalah 41jt/bulan. Terlihatlah, bukan tidak ingin pejabat melayani rakyat tetapi untuk mengurusi dirinya sendiri (melunasi uang kampanye) pun menjadi sebuah pr besar. Tak mengherankan jika pemilu dalam sistem saat ini mengalihkan fokus pejabat dari mengayomi rakyat menjadi memenuhi kepentingan diri. Keberadaan materi telah membatasi kepedulian mereka terhadap rakyat. Kini Pemerintah pun bukan lagi sosok yang mengayomi rakyat melainkan sosok yang ditopang bahkan hidup dari rakyat.
            Islam memberikan gambaran yang berbeda, Islam mampu menghilangkan batas kepedulian terhadap rakyat. Berkaca pada sejarah, saat Said bin Amir Al-Jumahi diangkat oleh Khalifah Umar bin Khatab untuk menjadi seorang gubernur, dia terpaksa menerima jabatan ini sebagai bentuk ketsiqahannya pada pemimpin. Said adalah seorang gubernur yang termasuk dalam daftar orang miskin. Saat Umar bin Khatab mengetahui kondisi Said kemudian ia memberikan harta kepada Said. Namun yang dilakukan Said bukanlah menggunakan harta itu untuk berfoya-foya bahkan menyenangkan diri melainkan  memberikan kembali harta tersebut kepada rakyat  miskin lainnya.
Tidak jauh berbeda dengan Said, Khalifah Utsman Bin Affan yang merupakan seorang ahli ekonomi pun begitu dermawan terhadap rakyatnya. Beliau memperluas masjid Madinah, menyumbangkan 1000 ekor unta, 70 ekor kuda, dan Uang sebesar 1000 dirham untuk biaya perang Tabuk, yang nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan harga dua setengah kilogram (2,5 kg) emas pada waktu itu, kemudian beliau mewakafkan sumur itu untuk kepentingan rakyat umum. Beliau pun pernah memberikan gandum yangg diangkut dengan 1000 ekor unta untuk membantu kaum miskin yang pada saat itu menderita kelaparan dan kekurangan bahan makanan dikarenakan musim kering yang berkepanjangan.
Sahabat pun bukanlah sosok yang menjadikan jabatan sebagai sesuatu yang patut diperjual belikan, melainkan mereka menyakini bahwa jabatan adalah sebuah tanggungan yang berat. Nampak pada sikap  khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menyatakan pernyataan saat beliau diangkat sebagai seorang Khalifah oleh Khalifah Sulaiman “Wahai saudara-saudara! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini, tanpa meminta pandanganku terlebih dahulu dan bukan juga permintaanku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiah yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang khalifah yang kalian sukai”. Tiba-tiba orang-orang serentak berkata: “Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukmin dan kami ridho kepadamu. Maka uruslah urusan kami dengan kebaikan dan keberkatan”. Setelah pernyataan seperti itu keluar dari rakyat maka ia pun menduduki jabatan Khalifah.
Jelaslah, sistem pemerintahan Islam tidak menjadikan materi sebagai batas kepedulian mereka terhadap rakyat justru mereka menjadikan materi sebagai benda yang bisa mereka atur. Karena Islam tidak menjadikan materi (baca : uang) sebagai alat untuk menduduki jabatan, hingga yang terbentuk adalah para pemimpin yang zuhud, serius peduli terhadap rakyat sebagai wujud kepatuhan mereka pada aturan Allah SWT. Maka keridhoanlah bagi mereka.
Wallahu’alam bi ash-shawab

Selasa, 23 Februari 2016

RESET


Perjalanan ini harus senantiasa di RESET
Terkadangan kita lupa me'RESET'nya
Ini yang menjadi kesalahan...

Ingat! kita harus me'RESET' , Menjadi 0 dan ALLAH adalah 1

Tak baik jika kita 1 dan Allah juga 1
atau jika kita 1 dan Allah 0
atau jika kita 0 dan orang lain 1
atau jika kita 1 dan orang lain 0
karena kita hanya membutuhkan ALLAH....

Jumat, 12 Februari 2016

Pemikiran dan Perubahan

Ini berbicara mengenai pemikiran...

Dulu inget banget, pas sd pake kerudung ... cuman sendirian di kelas yang pake kerudung, se - SD ada dua orang, kurang lebih yang pake kerudung, selalu diejek dan kena gunjingan #eh :)
Kalo ke tempat les dll pasti cuman sendirian yang pake kerudung... sedih.. merasa terasing.. paling kalo pas ngaji aja ada temen pake kerudung.. itu masa SD...

#kalo ngga tau bahwa pake kerudung itu wajib pasti udah buka kerudung deh...

Masa SMP sudah agak banyak yang pake kerudung walaupun masih bisa dihitung jari,
Masa SMA lebih banyak yang sudah mengerti akan Kerudung
Dan sekrang sudah jauh lebih banyak yang menggunakan kerudung...

Yah, ini berbicara mengenai pemikiran...
Kata siapa berbicara (read : interaksi pemikiran) itu tak bermakna
Mengajak itu pasti akan dicuekan, (It's wrong)
Karena ketika kesabaran dan ketekunan dalam interaksi itu always ada, Bahkan tanpa lelah terus di sampaikan meski didalamnya terdapat beribu tantangan
Yakinlah suatu hari nanti pemikiran yang benar yang kita interaksikan pun akan menjadi pemikiran ter-update dalam benaknya dan pastinya akan senantiasa terngiang-ngiang untuk kemudian mnjadi pemahaman yang terus diamalkan

Jika tidak hari ini berubah, mungkin minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan dia berubah (dan yakinlah suatu hari pasti berubah #YaFattah)


Seperti halnya hari ini mungkin banyak yang belum mengerti mengenai Islam Kaffah
Hanya beberapa yang menjadi pejuangnya,
Hanya segelintir, mungkin juga pejuangnya banyak yang suka diolok-olok, digunjing, bahkan banyak yang ingin menyingkirkan...

Tapi lihatlah semakin hari perjuangan ini semakin besar...
Dulu diri ini juga tidak masuk kedalam perjuangan ini

Dan suatu hari pasti tidak terbendung
Bahkan ini akan menjadi trend dikalangan umat muslim
Yah suatu hari nanti perjuangan melanjutkan kehidupan Islam yang Kaffaah dan mati syahid akan menjadi cita-cita seluruh kaum muslim, in syaa Allah :)

Selasa, 09 Februari 2016

Periode Rotasi Matahari

Untuk menentukan periode rotasi Matahari berdasarkan perubahan posisi harian bintik hitam (sunspot) yang terekam dalam sejumlah citra Matahari

Matahari merupakan bintang yang dinamis. Salah satu aktivitas Matahari ditandai dengan kemunculan sunspot atau bintik hitam yang merupakan daerah dengan medan magnet kuat meskipun memiliki temperatur yang lebih rendah daripada daerah di sekitarnya. Itulah yang membuat sunspot terlihat lebih gelap. Pencatatan pengamatan sunspot telah dilakukan oleh para pengamat langit bangsa Cina lebih dari 2000 tahun silam. Dalam sejarah dunia barat, pengamatan sunspot untuk pertama kalinya dilakukan oleh Christoph Scheiner walaupun publik lebih mengenal Galileo Galilei-lah orangnya ketika astronom Italia ini mengarahkan teleskop buatannya ke langit. Perubahan posisi harian sunspot di permukaan Matahari dapat memberikan informasi tentang gerak rotasi bintang induk di Tata Surya ini. Periode gerak rotasi tersebut dapat ditentukan dengan menganalisis besarnya pergeseran yang dialami sunspot tersebut.

Periode rotasi aktual ini diperkirakan 25,6 hari di khatulistiwa dan 33,5 hari di kutub. Tetapi akibat sudut pandang yang berubah-ubah dari Bumi saat mengorbit Matahari, rotasi tampak di khatulistiwa kira-kira 28 hari. Ini disebabkan matahari bukan benda tegar sehingga di daerah-daerah yang letaknya lebih jauh dari sumbu rotasi akan memiliki kecepatan rotasi yang lebih besar. Dengan menggunakan peralatan yang teliti, didapat bahwa periode rotasi di ekuator adalah 25,8 hari, di lintang 40 derajat 28 hari, dan di lintang 80 derajat periode adalah sebesar 36 hari.

Lebih lengkap hubungi tia.miftahul@gmail.com

Senin, 08 Februari 2016

Sepintas Mengenal Kiprah Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Awal Ilmu Geologi



Apa yang terlintas di benak anda saat mendengar nama Ibnu Sina atau Avicenna? Tentunya seorang tokoh cendekiawan muslim yang besar di bidang kedokteran, seorang ilmuwan yang magnum opus-nya berjudul Canon (al-Qanun fi al-Tibb) menjadi buku teks kedokteran di universitas-universitas Eropa selama lebih dari 5 abad. Tetapi mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa beliau juga seorang geologis. Tentu saja bukan seperti geologis dalam pengertian profesional seperti yang kita kenal sekarang. 

Lahir di daerah Bukhara, Asia Tengah, pada tahun 981 Masehi, Abu Ali al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina telah mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Bakat dan ketekunannya yang besar mengantarkan menjadi dokter yang diakui masyarakat Bukhara pada usia 17 tahun. Ibnu Sina, seperti juga para ilmuwan di masa dahulu, lebih sebagai seorang ilmuwan alam yang generalis. Keingintahuannya terhadap rahasia penciptaan alam semesta yang diikuti dengan pengamatan secara tekun dan teliti, menghasilkan penemuan-penemuan lainnya di bidang astronomi, fisika, matematika, kimia dan musik. 

Di bidang geologi, Ibnu Sina merupakan pionir dalam pengelompokkan mineral (mineralogi) yang ada saat itu, yang menjadi dasar bagi perkembangan geologi mineral selanjutnya. 

Pada subyek paleontologi, beliau mengajukan hipotesa mengenai fosil-fosil hewan yang dijumpai di bebatuan merupakan sisa-sisa pembentukan makhluk hidup baru yang gagal, di mana proses tersebut berlangsung di laut. 

Pada subyek sedimentologi, beliau mengemukakan terbentuknya lapisan batuan di laut yang menyusut. Setiap lapisan terbentuk pada kurun waktu tertentu, diikuti dengan pengendapan lapisan diatasnya pada kurun waktu berikutnya. Prinsip ini kemudian hari dikenal sebagai prinsip superposisi yang ditemukan oleh Nicolaus Steno, fisikawan Denmark pada tahun 1669.

Pada subyek tektonik dan geologi struktur, dengan mengamati perlapisan batuan di pegunungan, beliau mengajukan hipotesa bahwa perlapisan batuan yang tersebut mula-mula horisontal kemudian kedudukannya termiringkan oleh gempabumi dan menjadi pegunungan. Beliau berpendapat penyebab gempabumi tersebut adalah badai angin yang sangat kuat.

Dalam melakukan observasi terhadap berbagai gejala alam, Ibnu Sina beruntung memperoleh kolega korespondensi, seorang sparring partner yang sepadan, yaitu ilmuwan alam terbesar muslim bernama Al Biruni. Abu Raihan Muhammad Al-Biruni lahir di daerah Uzbekistan pada tahun 973 Masehi, menulis lebih dari 200 buku hasil pengamatan dan percobaannya, yang setara dengan sebanyak 13 ribu lembar folio, melebihi jumlah lembaran tulisan Galielo dan Newton bila keduanya digabungkan. Para ahli sejarah menyebut masa keemasan ilmu pengetahuan saat itu sebagai “abad Al-Biruni”.

Dengan kemampuan linguistik yang luar biasa, Al Biruni mampu menyerap ilmu pengetahuan secara langsung dari berbagai sumber kebudayaan. Hal ini mendasarinya untuk menetapkan metode ilmiah yang menjadi pegangan para ilmuwan setelahnya, yaitu : “seorang peneliti harus menggunakan setiap sumber yang ada dalam bentuk aslinya, melakukan pekerjaan dengan ketelitian obyektif, dan melakukan penelitian melalui pengamatan langsung dan percobaan”.

Di bidang geologi, karya terbesar Al Biruni adalah pada subyek mineralogi, berjudul Gems (Kitab-al-Jamahir). Beliau mendeskripsikan lebih dari 100 mineral lengkap dengan varian, genesa, karakteristik dan nilai ekonomisnya. Beliau pula yang menemukan cara menentukan berat jenis secara akurat untuk 18 jenis mineral penting. Dalam kitab ini beliau juga memuat data berbagai cadangan mineral yang ada di Cina, India, Srilangka, Eropa Tengah, Mesir, Mozambiq, dan kawasan Baltik.

Pada subyek geomorfologi, Al Biruni meneliti karakteristik Sungai Gangga dari sumbernya di pegunungan Himalaya hingga ke Delta Gangga-Brahmaputra di tepi Samudera Hindia. Beliau menemukan pengurangan ukuran butir sedimen dari hulu ke hilir terkait dengan berkurangnya energi arus sungai yang membawanya. Beliau juga mengajukan proses pembentukan lembah sungai akibat proses erosi yang berlangsung lama dan pelan, mendahului pendapat serupa yang dikemukakan oleh Nicolas Desmarest, seorang geologis Perancis, pada tahun 1756. Selain itu perhatiannya terhadap perubahan arah aliran Sungai Amu Darya menghasilkan kajian evolusi morfologi Asia Tengah.

Pada subyek paleontologi, Al Biruni juga melakukan pengamatan pada fosil-fosil yang ada di lapisan batuan di India dan menyimpulkan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari laut. Hal ini mendasarinya berpendapat bahwa batuan di India dahulu terbentuk di lautan. Masyarakat Barat di kemudian hari lebih mengenal prinsip ini sebagai yang ditemukan oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16.
Pada subyek hidrogeologi, Al Biruni meneliti prinsip dan rekayasa hidrostatik mata air alami dan artesis.

Al Biruni menghasilkan beragam karya original lainnya di bidang geografi, kartografi, botani, astronomi, fisika, matematika, kedokteran, sosiologi dan ilmu sejarah. Ragam penelitian Al Biruni meliputi semua jenis ilmu yang ada saat itu. Sehingga banyak ahli sejarah menganggapnya bukan saja ilmuwan muslim terbesar di abad pertengahan, tetapi juga sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa.

Buku karya Al Biruni lainnya yang dianggap berpengaruh adalah India (Kitab-al- Hind), yang menjadi rujukan para peneliti India hingga hampir 6 abad setelahnya. Al Biruni yang pernah tinggal di India selama 20 tahun mengupas secara rinci dan masif beragam kondisi geografi, sosial, budaya, bahasa dan keagamaan masyarakat India. Menarik sekali melihat seorang ilmuwan alam mumpuni yang juga fasih dalam merekam dan menyatu dengan realitas sosial masyarakatnya. Al Biruni memang dikenal sebagai seorang tokoh yang penuh rasa toleransi. Berbeda dengan Ibnu Sina, karya-karya Al Biruni baru diterjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa setelah abad ke-20, sehingga pengaruh pemikiran dan sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan Barat kurang berpengaruh. 

Kejujuran dan dedikasinya yang total terhadap ilmu pengetahuan mungkin dapat digambarkan dari peristiwa penolakannya terhadap penghargaan dari Sultan yang berkuasa saat itu, berupa ribuan mata uang perak yang dibawa oleh 3 ekor unta. Dengan sopan Al Biruni berkata, “saya mengabdi terhadap ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri dan bukan demi uang”. Sifat antusiasnya yang sangat besar terhadap ilmu juga tergambar dari ungkapannya bahwa “Allah itu Maha Mengetahui dan tidak menyukai ketidaktahuan”.

Al Biruni dan Ibnu Sina adalah dua nama yang telah memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia saat ini. Mereka merupakan mata rantai yang terlupakan dalam perkembangan ilmu geologi yang menghubungkan antara penemuan Yunani dan Romawi kuno dengan perkembangan geologi dunia Barat saat ini. Mereka berada di antara Herodotus yang meneliti Delta Nil di Mesir sekitar 4 abad sebelum Masehi dan James Hutton yang mengemukakan prinsip uniformitarianisme pada tahun 1795.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang peciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia..” (QS 3:190-191).

Salahuddin Husein, http://www.reocities.com