Jumat, 23 Maret 2018

Keluar dari Mode Aman

Moment dengan sahabat seperjuangan di wisuda 2016
Kehidupan itu bervariasi, ada yang merasa hidup datar-datar saja,  ada juga yang selalu menghadirkan tantangan dalam kehidupannya, "Ngga seru kalo hidup plat aja".

Bahkan pernah di suatu titik hidup ini terasa aman aman saja tak ada tantangan yang harus diperjuangkan, nilai kuliah aman,  temen temen aman,  hubungan dengan dosen aman,  ibadah ritual aman,  "Kenapa hidupku aman teruus? Apa yang salah?" kata kata itu diucapkan sambil menangis meminta petunjuk pada Allah.

Hingga akhirnya  bertemu dengan mentor. Masya Allah, ternyata benar ada yang salah dengan mode amanku. Ternyata ada sesuatu yang harus diperjuangan, tapi malah tertinggal yaitu memperjuangkan penerapan seluruh aturan Islam dalam kehidupan. Kembali menangis ketika "perjuangan itu terlupakan dalam benakku".

Mulailah keluar dari mode aman. Tekad itu dibuat dengan speedy. Harus bisa mengejar ketertinggalan.

Sunatullahnya,  saat itu tantangan pun mulai hadir. Ada kehidupan yang harus diseimbangkan antara dunia dan akhirat, antara dakwah,  kuliah,  dan kerja, antara memikirkan diri, keluarga, dan umat.

Teman sekitar mulai merasakan perubahan, mereka terkadang bertanya "Kamu kemana aja sih sekarang? jarang kumpul dengan kita" , "tugas udah belum? Mau ngerjain bareng", "Suka kasihan ngeliat kamu sibuk dan kesana sini sendirian terus".

Bagi mereka yang tak menemani perjuangan ini,  mungkin aneh "kok mau mau nya sih memperjuangkan sesuatu yang bukan tugas dari dosen atau orang tua". Hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka. Terkadang pada banyak hal, harus dihadapkan pada perkataan "kamu mah pasti bisa" nada optimis dari orang lain tapi membuat bingung karena ternyata orang sekitar tak ada yang siap mengajari kekurangan ataupun ketertinggalanku dalam mata kuliah. Tak meragukan perkataan itu Allah jadikan doa,  entah kekuatan apa yang menyertai tapi selalu hadir saja energi dalam mengerjakan dan menyelesaikan berbagai hal.

Jurusan fisika,  menjadi koordinator dua komunitas, proses menjadi anggota sebuah organisasi, menjadi pengajar private di sore hingga malam hari, menyelesaikan amanah dakwah berupa design, tulisan, tak lupa menyeru berhijrah pada muslimah kampus.

Tentu ada mata kuliah yang tertinggal,  ada dosen yang nyinyir,  ada teman yang tak suka, ada harapan orang tua yang belum terwujud, ada aktifitas yang tak sempurna. Hal itu menyadarkan pada suatu titik, "Tak ada manusia yang sempurna,  dan beribu kekurangan dimiliki diri ini, sehingga tak layak mengatakan diri ini aman.  Apalagi perjuangan Islam yang sebenarnya barulah dimulai".

Bahagia,  ya bahagia menghadapi tantangan itu "Aku baru merasakan hidup sebenarbenarnya hidup. Nafas itu terasa nikmat dan bermakna.  Bayangan depan mata itu tidak kosong tapi ada dunia yang harus tertaklukan".

Hari ini pun, masih bahagia ketika tantangan yang datang silih berganti dapat tertaklukan sesuai aturan syara.

So happy is simple, Yuk keluar dari mode aman!

Bogor, 24 Maret 2018