Selasa, 23 Februari 2016

RESET


Perjalanan ini harus senantiasa di RESET
Terkadangan kita lupa me'RESET'nya
Ini yang menjadi kesalahan...

Ingat! kita harus me'RESET' , Menjadi 0 dan ALLAH adalah 1

Tak baik jika kita 1 dan Allah juga 1
atau jika kita 1 dan Allah 0
atau jika kita 0 dan orang lain 1
atau jika kita 1 dan orang lain 0
karena kita hanya membutuhkan ALLAH....

Jumat, 12 Februari 2016

Pemikiran dan Perubahan

Ini berbicara mengenai pemikiran...

Dulu inget banget, pas sd pake kerudung ... cuman sendirian di kelas yang pake kerudung, se - SD ada dua orang, kurang lebih yang pake kerudung, selalu diejek dan kena gunjingan #eh :)
Kalo ke tempat les dll pasti cuman sendirian yang pake kerudung... sedih.. merasa terasing.. paling kalo pas ngaji aja ada temen pake kerudung.. itu masa SD...

#kalo ngga tau bahwa pake kerudung itu wajib pasti udah buka kerudung deh...

Masa SMP sudah agak banyak yang pake kerudung walaupun masih bisa dihitung jari,
Masa SMA lebih banyak yang sudah mengerti akan Kerudung
Dan sekrang sudah jauh lebih banyak yang menggunakan kerudung...

Yah, ini berbicara mengenai pemikiran...
Kata siapa berbicara (read : interaksi pemikiran) itu tak bermakna
Mengajak itu pasti akan dicuekan, (It's wrong)
Karena ketika kesabaran dan ketekunan dalam interaksi itu always ada, Bahkan tanpa lelah terus di sampaikan meski didalamnya terdapat beribu tantangan
Yakinlah suatu hari nanti pemikiran yang benar yang kita interaksikan pun akan menjadi pemikiran ter-update dalam benaknya dan pastinya akan senantiasa terngiang-ngiang untuk kemudian mnjadi pemahaman yang terus diamalkan

Jika tidak hari ini berubah, mungkin minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan dia berubah (dan yakinlah suatu hari pasti berubah #YaFattah)


Seperti halnya hari ini mungkin banyak yang belum mengerti mengenai Islam Kaffah
Hanya beberapa yang menjadi pejuangnya,
Hanya segelintir, mungkin juga pejuangnya banyak yang suka diolok-olok, digunjing, bahkan banyak yang ingin menyingkirkan...

Tapi lihatlah semakin hari perjuangan ini semakin besar...
Dulu diri ini juga tidak masuk kedalam perjuangan ini

Dan suatu hari pasti tidak terbendung
Bahkan ini akan menjadi trend dikalangan umat muslim
Yah suatu hari nanti perjuangan melanjutkan kehidupan Islam yang Kaffaah dan mati syahid akan menjadi cita-cita seluruh kaum muslim, in syaa Allah :)

Selasa, 09 Februari 2016

Periode Rotasi Matahari

Untuk menentukan periode rotasi Matahari berdasarkan perubahan posisi harian bintik hitam (sunspot) yang terekam dalam sejumlah citra Matahari

Matahari merupakan bintang yang dinamis. Salah satu aktivitas Matahari ditandai dengan kemunculan sunspot atau bintik hitam yang merupakan daerah dengan medan magnet kuat meskipun memiliki temperatur yang lebih rendah daripada daerah di sekitarnya. Itulah yang membuat sunspot terlihat lebih gelap. Pencatatan pengamatan sunspot telah dilakukan oleh para pengamat langit bangsa Cina lebih dari 2000 tahun silam. Dalam sejarah dunia barat, pengamatan sunspot untuk pertama kalinya dilakukan oleh Christoph Scheiner walaupun publik lebih mengenal Galileo Galilei-lah orangnya ketika astronom Italia ini mengarahkan teleskop buatannya ke langit. Perubahan posisi harian sunspot di permukaan Matahari dapat memberikan informasi tentang gerak rotasi bintang induk di Tata Surya ini. Periode gerak rotasi tersebut dapat ditentukan dengan menganalisis besarnya pergeseran yang dialami sunspot tersebut.

Periode rotasi aktual ini diperkirakan 25,6 hari di khatulistiwa dan 33,5 hari di kutub. Tetapi akibat sudut pandang yang berubah-ubah dari Bumi saat mengorbit Matahari, rotasi tampak di khatulistiwa kira-kira 28 hari. Ini disebabkan matahari bukan benda tegar sehingga di daerah-daerah yang letaknya lebih jauh dari sumbu rotasi akan memiliki kecepatan rotasi yang lebih besar. Dengan menggunakan peralatan yang teliti, didapat bahwa periode rotasi di ekuator adalah 25,8 hari, di lintang 40 derajat 28 hari, dan di lintang 80 derajat periode adalah sebesar 36 hari.

Lebih lengkap hubungi tia.miftahul@gmail.com

Senin, 08 Februari 2016

Sepintas Mengenal Kiprah Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Awal Ilmu Geologi



Apa yang terlintas di benak anda saat mendengar nama Ibnu Sina atau Avicenna? Tentunya seorang tokoh cendekiawan muslim yang besar di bidang kedokteran, seorang ilmuwan yang magnum opus-nya berjudul Canon (al-Qanun fi al-Tibb) menjadi buku teks kedokteran di universitas-universitas Eropa selama lebih dari 5 abad. Tetapi mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa beliau juga seorang geologis. Tentu saja bukan seperti geologis dalam pengertian profesional seperti yang kita kenal sekarang. 

Lahir di daerah Bukhara, Asia Tengah, pada tahun 981 Masehi, Abu Ali al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina telah mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Bakat dan ketekunannya yang besar mengantarkan menjadi dokter yang diakui masyarakat Bukhara pada usia 17 tahun. Ibnu Sina, seperti juga para ilmuwan di masa dahulu, lebih sebagai seorang ilmuwan alam yang generalis. Keingintahuannya terhadap rahasia penciptaan alam semesta yang diikuti dengan pengamatan secara tekun dan teliti, menghasilkan penemuan-penemuan lainnya di bidang astronomi, fisika, matematika, kimia dan musik. 

Di bidang geologi, Ibnu Sina merupakan pionir dalam pengelompokkan mineral (mineralogi) yang ada saat itu, yang menjadi dasar bagi perkembangan geologi mineral selanjutnya. 

Pada subyek paleontologi, beliau mengajukan hipotesa mengenai fosil-fosil hewan yang dijumpai di bebatuan merupakan sisa-sisa pembentukan makhluk hidup baru yang gagal, di mana proses tersebut berlangsung di laut. 

Pada subyek sedimentologi, beliau mengemukakan terbentuknya lapisan batuan di laut yang menyusut. Setiap lapisan terbentuk pada kurun waktu tertentu, diikuti dengan pengendapan lapisan diatasnya pada kurun waktu berikutnya. Prinsip ini kemudian hari dikenal sebagai prinsip superposisi yang ditemukan oleh Nicolaus Steno, fisikawan Denmark pada tahun 1669.

Pada subyek tektonik dan geologi struktur, dengan mengamati perlapisan batuan di pegunungan, beliau mengajukan hipotesa bahwa perlapisan batuan yang tersebut mula-mula horisontal kemudian kedudukannya termiringkan oleh gempabumi dan menjadi pegunungan. Beliau berpendapat penyebab gempabumi tersebut adalah badai angin yang sangat kuat.

Dalam melakukan observasi terhadap berbagai gejala alam, Ibnu Sina beruntung memperoleh kolega korespondensi, seorang sparring partner yang sepadan, yaitu ilmuwan alam terbesar muslim bernama Al Biruni. Abu Raihan Muhammad Al-Biruni lahir di daerah Uzbekistan pada tahun 973 Masehi, menulis lebih dari 200 buku hasil pengamatan dan percobaannya, yang setara dengan sebanyak 13 ribu lembar folio, melebihi jumlah lembaran tulisan Galielo dan Newton bila keduanya digabungkan. Para ahli sejarah menyebut masa keemasan ilmu pengetahuan saat itu sebagai “abad Al-Biruni”.

Dengan kemampuan linguistik yang luar biasa, Al Biruni mampu menyerap ilmu pengetahuan secara langsung dari berbagai sumber kebudayaan. Hal ini mendasarinya untuk menetapkan metode ilmiah yang menjadi pegangan para ilmuwan setelahnya, yaitu : “seorang peneliti harus menggunakan setiap sumber yang ada dalam bentuk aslinya, melakukan pekerjaan dengan ketelitian obyektif, dan melakukan penelitian melalui pengamatan langsung dan percobaan”.

Di bidang geologi, karya terbesar Al Biruni adalah pada subyek mineralogi, berjudul Gems (Kitab-al-Jamahir). Beliau mendeskripsikan lebih dari 100 mineral lengkap dengan varian, genesa, karakteristik dan nilai ekonomisnya. Beliau pula yang menemukan cara menentukan berat jenis secara akurat untuk 18 jenis mineral penting. Dalam kitab ini beliau juga memuat data berbagai cadangan mineral yang ada di Cina, India, Srilangka, Eropa Tengah, Mesir, Mozambiq, dan kawasan Baltik.

Pada subyek geomorfologi, Al Biruni meneliti karakteristik Sungai Gangga dari sumbernya di pegunungan Himalaya hingga ke Delta Gangga-Brahmaputra di tepi Samudera Hindia. Beliau menemukan pengurangan ukuran butir sedimen dari hulu ke hilir terkait dengan berkurangnya energi arus sungai yang membawanya. Beliau juga mengajukan proses pembentukan lembah sungai akibat proses erosi yang berlangsung lama dan pelan, mendahului pendapat serupa yang dikemukakan oleh Nicolas Desmarest, seorang geologis Perancis, pada tahun 1756. Selain itu perhatiannya terhadap perubahan arah aliran Sungai Amu Darya menghasilkan kajian evolusi morfologi Asia Tengah.

Pada subyek paleontologi, Al Biruni juga melakukan pengamatan pada fosil-fosil yang ada di lapisan batuan di India dan menyimpulkan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari laut. Hal ini mendasarinya berpendapat bahwa batuan di India dahulu terbentuk di lautan. Masyarakat Barat di kemudian hari lebih mengenal prinsip ini sebagai yang ditemukan oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16.
Pada subyek hidrogeologi, Al Biruni meneliti prinsip dan rekayasa hidrostatik mata air alami dan artesis.

Al Biruni menghasilkan beragam karya original lainnya di bidang geografi, kartografi, botani, astronomi, fisika, matematika, kedokteran, sosiologi dan ilmu sejarah. Ragam penelitian Al Biruni meliputi semua jenis ilmu yang ada saat itu. Sehingga banyak ahli sejarah menganggapnya bukan saja ilmuwan muslim terbesar di abad pertengahan, tetapi juga sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa.

Buku karya Al Biruni lainnya yang dianggap berpengaruh adalah India (Kitab-al- Hind), yang menjadi rujukan para peneliti India hingga hampir 6 abad setelahnya. Al Biruni yang pernah tinggal di India selama 20 tahun mengupas secara rinci dan masif beragam kondisi geografi, sosial, budaya, bahasa dan keagamaan masyarakat India. Menarik sekali melihat seorang ilmuwan alam mumpuni yang juga fasih dalam merekam dan menyatu dengan realitas sosial masyarakatnya. Al Biruni memang dikenal sebagai seorang tokoh yang penuh rasa toleransi. Berbeda dengan Ibnu Sina, karya-karya Al Biruni baru diterjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa setelah abad ke-20, sehingga pengaruh pemikiran dan sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan Barat kurang berpengaruh. 

Kejujuran dan dedikasinya yang total terhadap ilmu pengetahuan mungkin dapat digambarkan dari peristiwa penolakannya terhadap penghargaan dari Sultan yang berkuasa saat itu, berupa ribuan mata uang perak yang dibawa oleh 3 ekor unta. Dengan sopan Al Biruni berkata, “saya mengabdi terhadap ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri dan bukan demi uang”. Sifat antusiasnya yang sangat besar terhadap ilmu juga tergambar dari ungkapannya bahwa “Allah itu Maha Mengetahui dan tidak menyukai ketidaktahuan”.

Al Biruni dan Ibnu Sina adalah dua nama yang telah memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia saat ini. Mereka merupakan mata rantai yang terlupakan dalam perkembangan ilmu geologi yang menghubungkan antara penemuan Yunani dan Romawi kuno dengan perkembangan geologi dunia Barat saat ini. Mereka berada di antara Herodotus yang meneliti Delta Nil di Mesir sekitar 4 abad sebelum Masehi dan James Hutton yang mengemukakan prinsip uniformitarianisme pada tahun 1795.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang peciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia..” (QS 3:190-191).

Salahuddin Husein, http://www.reocities.com