Mahasiswa. 4,8
Juta manusia di Indonesia ber-title-kan
Mahasiswa, merekalah orang-orang terpilih yang berhasil, baik secara kemampuan
maupun keuangan untuk meneruskan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi. Hasil
survey menyatakan apabila Mahasiswa itu berusia 19-20 tahun maka hanya 18,4
persen penduduk Indonesia yang meneruskan ke Perguruan Tinggi pada tahun 2011
(Kompas.com). Ini-lah bukti bahwa hanya orang-orang terpilih saja yang mampu
secara Intelektual dan Financially yang menjadi Mahasiswa karena itulah mahasiswa
menjadi tonggak kemajuan suatu bangsa bahkan bangsa ini memberikan amanah yang
luar biasa kepada Mahasiswa yaitu sebagai Agent of Change, Iron Stock, Social
Control, dan Problem Solving.
Bila melirik pada sejarah, Mahasiswa bukan sosok biasa
saja yang tugasnya hanya mencari ilmu duduk dibangku perkuliahan demi
tercapainya Indeks Penilaian Komulatif (IPK) 4 tetapi Mahasiswa pun merupakan
agen pergerakan bangsa dengan ditandai oleh kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei
1908. Begitupun dengan sumpah pemuda pada tahun 1928 sebagai lambang kesatuan
bangsa, perjuangan fisik dan proklamasi kemerdekaan 1945, Tritura dan runtuhnya
rezim orde lama tahun 1966, aksi reformasi dan tragedi semanggi tahun 1998 pun
menjadi tanda bahwa mahasiswa merupakan satu-satunya sosok yang bisa mengontrol
kalangan atas (pemerintah) dan penolong kalangan bawah (rakyat).
Keadaan Indonesia pada saat ini sedang mengalami
keterpurukan yang luar biasa dari mulai kemiskinan, kekayaan yang dikuasai
asing hampir 85%, keterbelakangan dalam pendidikan, dekadensi moral, bahkan
busung lapar adalah hal-hal yang menghantui indonesia saaat ini. Akankah
Mahasiswa bangkit kembali mengeluarkan bangsa Indonesia dari kondisi terpuruk layaknya ketika mereka bangkit
memproklamasikan Indonesia? Kebangkitan suatu golongan ataupun individu
dapat terlihat dari pemikiran yang mereka bawa. Begitupun dengan kebangkitan
Indonesia itu dapat terlihat dari pemikiran dan aktivitas Mahasiswanya, apabila
Mahasiswa membawa pemikiran pragmatis maka berbagai solusi pun akan pragmatis,
namun apabila Mahasiswa membawa pemikiran yang radikal (mendalam) dan cemerlang,
maka Mahasiswa pun akan menuntaskan problematika hingga ke akarnya. Di era
globalisasi dan kemajuan zaman saat ini, sayang nya Mahasiswa banyak yang
berpikir pragmatis. “Jika ada yang kelaparan maka beri makan” itulah yang
mereka lakukan cukup sampai disana, tidak menindaklanjuti pada tataran
“Mengapa ada yang kelaparan? Apa yang salah?” hingga solusi tuntas dan
kelaparan bisa terjamin ketidakadaannya.
Kondisi Indonesia sebagai negera yang mayoritas
penduduknya muslim, sangatlah mudah untuk menuju kebangkitan karena solusi
tuntas problematika saat ini dimiliki oleh Islam. Islam sebagai agama yang
sempurna menawarkan solusi tuntas yaitu dengan penerapan hukum-hukumnya dalam
sebuah Institusi yaitu Khilafah Islamiyyah. Maka sudah selayaknya Mahasiswa
merubah arah pergerakannya yang pragmatis, pengusung demokrasi menjadi
pergerakan radikal dan cemerlang dengan pengusung Khilafah Islamiyyah.
Wahai Mahasiswa
Indonesia, kebangkitan negeri Indonesia ini bisa terjadi hanya jika Mahasiswa tidak
hanya memiliki IPK 4 tetapi Mahasiswa pun berpikir radikal dan cemerlang dengan
mengusung Syariah dan Khilafah Islamiyyah.
Wallah
a’lam bi ash-shawab.