Senin, 06 Oktober 2014

TUGAS MAHASISWA : BUKAN HANYA IPK 4



       Mahasiswa. 4,8 Juta manusia di Indonesia ber-title-kan Mahasiswa, merekalah orang-orang terpilih yang berhasil, baik secara kemampuan maupun keuangan untuk meneruskan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi. Hasil survey menyatakan apabila Mahasiswa itu berusia 19-20 tahun maka hanya 18,4 persen penduduk Indonesia yang meneruskan ke Perguruan Tinggi pada tahun 2011 (Kompas.com). Ini-lah bukti bahwa hanya orang-orang terpilih saja yang mampu secara Intelektual dan Financially  yang menjadi Mahasiswa karena itulah mahasiswa menjadi tonggak kemajuan suatu bangsa bahkan bangsa ini memberikan amanah yang luar biasa kepada Mahasiswa yaitu sebagai Agent of Change, Iron Stock, Social Control, dan Problem Solving.
            Bila melirik pada sejarah, Mahasiswa bukan sosok biasa saja yang tugasnya hanya mencari ilmu duduk dibangku perkuliahan demi tercapainya Indeks Penilaian Komulatif (IPK) 4 tetapi Mahasiswa pun merupakan agen pergerakan bangsa dengan ditandai oleh kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Begitupun dengan sumpah pemuda pada tahun 1928 sebagai lambang kesatuan bangsa, perjuangan fisik dan proklamasi kemerdekaan 1945, Tritura dan runtuhnya rezim orde lama tahun 1966, aksi reformasi dan tragedi semanggi tahun 1998 pun menjadi tanda bahwa mahasiswa merupakan satu-satunya sosok yang bisa mengontrol kalangan atas (pemerintah) dan penolong kalangan bawah (rakyat).
            Keadaan Indonesia pada saat ini sedang mengalami keterpurukan yang luar biasa dari mulai kemiskinan, kekayaan yang dikuasai asing hampir 85%, keterbelakangan dalam pendidikan, dekadensi moral, bahkan busung lapar adalah hal-hal yang menghantui indonesia saaat ini.  Akankah Mahasiswa bangkit kembali mengeluarkan bangsa Indonesia dari kondisi terpuruk  layaknya ketika mereka bangkit memproklamasikan Indonesia? Kebangkitan suatu golongan ataupun individu dapat terlihat dari pemikiran yang mereka bawa. Begitupun dengan kebangkitan Indonesia itu dapat terlihat dari pemikiran dan aktivitas Mahasiswanya, apabila Mahasiswa membawa pemikiran pragmatis maka berbagai solusi pun akan pragmatis, namun apabila Mahasiswa membawa pemikiran yang radikal (mendalam) dan cemerlang, maka Mahasiswa pun akan menuntaskan problematika hingga ke akarnya. Di era globalisasi dan kemajuan zaman saat ini, sayang nya Mahasiswa banyak yang berpikir pragmatis. “Jika ada yang kelaparan maka beri makan” itulah yang mereka lakukan cukup sampai disana, tidak menindaklanjuti pada tataran “Mengapa ada yang kelaparan? Apa yang salah?” hingga solusi tuntas dan kelaparan bisa terjamin ketidakadaannya.
            Kondisi Indonesia sebagai negera yang mayoritas penduduknya muslim, sangatlah mudah untuk menuju kebangkitan karena solusi tuntas problematika saat ini dimiliki oleh Islam. Islam sebagai agama yang sempurna menawarkan solusi tuntas yaitu dengan penerapan hukum-hukumnya dalam sebuah Institusi yaitu Khilafah Islamiyyah. Maka sudah selayaknya Mahasiswa merubah arah pergerakannya yang pragmatis, pengusung demokrasi menjadi pergerakan radikal dan cemerlang dengan pengusung Khilafah Islamiyyah.
Wahai Mahasiswa Indonesia, kebangkitan negeri Indonesia ini bisa terjadi hanya jika Mahasiswa tidak hanya memiliki IPK 4 tetapi Mahasiswa pun berpikir radikal dan cemerlang dengan mengusung Syariah dan Khilafah Islamiyyah.
Wallah a’lam bi ash-shawab.