Minggu, 18 Oktober 2015

Kabut Asap, Selesaikan dengan Islam


Oleh Tia Miftahul Khoiriyah (Aktivis Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia)

Lagi, Riau mengalami peristiwa kabut asap. Peristiwa ini terus berulang setiap tahun sejak 18 tahun terakhir. Pada tahun ini berlangsung cukup lama karena musim kemarau yang panjang serta hujan yang tak kunjung membasahi tanah. Akibat kabut asap tersebut sebanyak 25,6 juta jiwa terpapar asap, yaitu 22,6 juta jiwa di Sumatera dan 3 juta jiwa di Kalimantan. Puluhan ribu orang menderita sakit. Hingga 28/9, di Riau saja tercatat 44.871 jiwa terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sungguh keadaan yang memprihatinkan. 
Dari hasil penyelidikan, asap ini diketahui berasal dari pembakaran hutan yang dilakukan oleh beberapa oknum swasta. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memperkirakan pembakaran pada lebih dari 1.000 titik api di areal perkebunan sawit di seluruh Indonesia didalangi oleh perusahaan swasta. Menurut Direktur Eksekutif Sawitwach, Jefri Saragih, penyebab utama naiknya jumlah titik api tiap tahunnya disebabkan oleh minimnya keseriusan perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk mengelola perkebunan mereka. Mereka cenderung mengambil langkah praktis dan efisien dalam membuka lahan tanpa memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial. Disamping itu, minimnya pengawasan pengelolaan hutan dan mudahnya regulasi menjadikan pihak swasta bebas berbuat apapun tanpa melihat dampak bagi masyarakat. Ini diawali dari biasnya kepemilikan lahan hutan tersebut, sehingga sulit untuk menentukan siapakah oknum yang bertanggung jawab dalam musibah ini.  
Islam dalam memecahkan persoalan ini memiliki seperangkat aturan yang membawa maslahat bagi kehidupan manusia. Islam yang berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunah memiliki kedudukan sebagai penjelas hukum perbuatan manusia, termasuk dalam hal sosial. Dalam suatu hadist dinyatakan bahwa “Kaum Muslim berserikat dalam air, padang rumput, dan api” (HR. Abu Daud). Artinya, hutan sebagai salah satu sumber daya alam ialah milik seluruh kaum muslim dan seluruh warga negara, dan tidak diperkenankan untuk dimiliki oleh individu. Namun, saat ini dengan prinsip kebebasan berkepemilikan, penjarahan lahan hutan dikuasai oleh oknum tertentu. Walhasil hal ini bertolak belakang dengan hukum Allah.  Adapun bencana kabut asap ini terjadi akibat dari pengabaian terhadap hukum Allah. Bunyi surat Ar-Rum ayat 41 mengenai kerusakan di daratan dan di lautan karena perbuatan tangan manusia, ialah merupakan peringatan bahwa manusialah yang menyebabkan bencana itu terjadi. Keseimbangan alam terganggu akibat keserakahan manusia.
 Oleh karena itu, tidak ada cara lain selain kembali kepada Islam.  Ketika seluruh aspek kehidupan diatur oleh Islam dalam tataran individu, masyarakat, hingga negara, akan membawa kemaslahatan bagi seluruh alam semesta. Peradabannya pun akan menjadi peradaban yang penuh dengan kesejahteraan dan kedamaian, dan hal ini telah berlangsung selama kurang lebih 14 abad. Kebaikan demi kebaikan pun hadir, keserakahan atas nafsu pun terkendali bahkan sedikit demi sedikit menghilang karena tegasnya sistem persanksian dalam Islam.
Maka bagi kaum muslim yang menginginkan perubahan mendasar saat ini adalah cukup meninggalkan aturan manusia dan menggantinya dengan aturan Allah saja. Terlebih Allah pun berjanji bahwa Allah akan memberikan kesejahteraan dimuka bumi ini ketika manusianya beriman dan bertakwa, yakni menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Selasa, 01 September 2015

Teruntuk Sahabat Kami


Persembahan untuk pengemban amanah dakwah
Yang terus berjuang tanpa lelah
Karena cintaNya padamu, Ia percayakan amanah langit dibahumu
Karena sayangNya padamu, Ia pilihkan jalan ini untukmu
Pernahkah kau bertanya mengapa ia memilihmu?
Karena Allah mencintaimu

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu berjihad dengan harta dan jiwanya dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al-Hujarat : 15)

Saudaraku
Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian dan keramaian
Allah memberikan kedewasaan ketika masalah berdatangan
Allah melatih ketegaran dalam kesakitan
Tetaplah istiqamah
Sertakan Allah dalam setiap langkah
Hati yang siap memikul amanah adalah hati yang kuat, teguh, dan tulus
Tak berharap apapun, tapi sanggup memberi dengan segenap apapun
Sebab hanya dari Allah berharap balasan
“Jangan meminta dikurangi bebanmu
Tapi mintalah punggung ini agar kuat membawanya”

Saudaraku
berjuanglah untuk kebaikan dan kebenaran, sepahit dan sesulit apapun
bersatulah dalam jamaah, sebenci dan sekecewa apapun
karena berjamaah baik dari pada sendirian
Bangkitlah ketika jatuh, dan jangan menyerah
Sampaikanlah dakwah setiap saat
Agar saudaramu merasa memiliki dan dimiliki

Saudaraku
Memang tak mudah bertahan disebuah jalan bernama dakwah ini
Maka berbahagialah Allah masih memberi kita kesempatan untuk merasakan indahnya jalan ini
Karena pada hakikatnya, bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah
Lelah ? itu pasti
Bahkan para sahabat Rasul pun merasakannya
Mereka bertanya, “Ya Rasul, Kapankah kita beristirahat dari semua ini?”
Jawaban Rasul “Ketika kelak kaki kita menapak di surgaNya”
“....Maukah kau bersabar? Dan Tuhan melihatmu”

Saudaraku
Kita patut bersyukur karena Allah memberikan kita kesempatan berjuang dijalan ini
Karena kita salah satu diantara orang-orang pilihanNya..
Kawan.. tangis, tawa, semangat dan lelah, duka, bahagia
Pasti menghiasi perjalanan kita
Bulatkan tekad kuatkan azzam diri
Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan pada kita di jalan ini
Jalan cinta para pejuang
Sampai kelak Allah benar-benar mengizinkan kita menapaki surgaNya...

Rabu, 10 Juni 2015

Perjalanan Kehidupan


"Perjalanan hidup penuh misteri
Siapa yang tahu?
Tak ada satu pun yang tahu" (Penggalan Puisi Antara Aku dan Tuhan)

Begitu pun dengan kehidupan kita sahabat, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari. Hari ini mungkin penuh dengan canda, tawa, atau mungkin ada yang sedang nangis sejadi-jadinya, tapi sungguh tak ada satu orang pun dari kita mengetahui apa yang akan terjadi di hari esok, apakah besok kita akan tersenyum ataukah menangis.
Kehidupan ini sebentar... Yah s-e-b-e-n-t-a-r saking sebentarnya kita merasa baru kemarin SD terus SMP sekarang udah jadi Mahasiswa,... waktu itu cepat sekali berlalu...
"Tapi adakah perubahan dalam diri kita ketika waktu ini cepat sekali berlalu?"
"Makin dewasa-kah? atau makin pinter-kah? atau makin sholehah-kah?"
Pertanyaan ini adalah pertanyaan klise yang pastinya akan muncul dalam benak setiap orang

Dan Pencarian Identitas itu akan dimulai dalam kehidupanmu...


Dear, Hidup tanpa landasan yang jelas akan menjadikan aktivitas itu mengambang tidak optimal penuh kata asal  meski hasil terlihat bagus
So, Show our Identity as a muslim... Islam as our ideology will show us as The Best Ummah
 #MahasiswaMuslim Prestatif

EFFEK FOTOLISTRIK 2



Makalah







Oleh
Tia Miftahul Khoiriyah (1201912)
Syifa Nuripah (1200076)
                                                                                                                      






PROGRAM STUDI FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Peristiwa yang terjadi di kehidupan yang kompleks, menuntut perkembangan pada ilmu fisika. Fisika pun berkembang dari fisika klasik hingga sekarang fisika modern (kuantum) seiring dengan peristiwa yang ditemukan dan diteliti. Efek fotolistrik merupakan salah satu pemicu kelahiran fisika modern yang menarik perhatian para peneliti.
Efek fotolistrik ditemukan oleh Hertz pada tahun 1887 dan telah dikaji oleh Lenard pada tahun 1900. Gejala efek fotolistrik ini dapat dijelaskan dengan baik oleh Einstein pada tahun 1905 dengan mengembangkan hipotesis Max Planck mengenai kuantisasi energi bahwa kuantisasi energi merupakan sifat dasar energi gelombang elektromagnetik atau dengan kata lain cahaya dipancarkan oleh materi dalam bentuk paket-paket energi yang disebut kuanta dengan perumusan sebagai berikut E=hv. Albert Einstein mengembangkannya sehingga menemukan bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel yang kemudian disebut sebagai foton. Ketika cahaya ditembakkan ke suatu permukaan logam, foton-fotonnya akan menumbuk elektron-elektron pada permukaan logam tersebut sehingga elektron itu dapat lepas. Peristiwa lepasnya elektron dari permukaan logam itu dalam fisika disebut sebagai efek fotolistrik. Hal ini lah yang membuat penulis tertarik untuk memahami bagaimana terjadinya peristiwa efek fotolistrik ini dengan menuangkannya dalam sebuah makalah yang berjudul “Efek Fotolistrik II”.
1.2         Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang dirumuskan penulis adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana fenomena terjadinya efek fotolistrik?
2.      Bagaimana cara menentukan konstanta Planck?

1.3         Tujuan
Adapun tujuan dari eksperimen ini yaitu :
1.        Memahami fenomena efek fotolistrik
2.        Menentukan konstanta Planck
1.4         Manfaat
Adapaun manfaat dari eksperimen ini yaitu :
1.        Dengan memahami fenomena efek fotolistrik, kita dapat mengetahui perbedaan pandangan antara fisika klasik dan fisika modern mengenai cahaya
2.        Dengan konstanta Planck, kita dapat menghitung besarnya fungsi kerja suatu bahan yang berguna untuk mengetahui jenis bahan logam apa yang digunakan
BAB II
DASAR TEORI

Efek fotolistrik adalah peristiwa lepasnya elektron dari permukaan logam pada saat permukaan logam tersebut disinari cahaya (foton) yang memiliki energi lebih besar dari energi ambang (fungsi kerja) logam. Elektron yang terlepas pada peristiwa efek fotolistrik tersebut dinamakan elektron foto (photo electron).   
Pada tahun1905, Einstein merumuskan teori kuantum cahaya tentang effek fotolistrik. Teori itu dirumuskannya karena terdorong untuk menerangkan efek fotolistrik yang telah diamati orang pada waktu itu. Teori kuantum cahayanya yaitu sangat erat kaitannya dengan hipotesa Planck tentang terkuantisasinya energi osilator pada permukaan benda hitam sempurna. Hal ini merupakan penyempurnaan konsep yang dikemukakan oleh Max Planck. Pendapat yang dikemukakan Einstein adalah

Suatu berkas cahaya terdiri dari paket-paket energi berharga diskrit dengan sifta-sifat sebagai berikut:
1.         Paket energi merambat dengan kecepatan cahaya c, tetapi berbeda dengan gelombang, energi ini tidak menyebar dalam ruang dan tetap menempati volume yang sangat terbatas dalam ruang.
2.         Energi paket terkait dengan frekuensi secara linier: E = hn
3.         Dalam proses fotolistrik sebuah paket menyerahkan energi seluruhnya pada elektron, dan elektron itu kemudian meninggalkan logam.

Hipotesa kuantum cahaya sesungguhnya hanya meliputi point 1 dan 2, sedangkan point 3 lebih khusus terkait dengan efek fotolistrik. Jadi point-point di atas merupakan hipotesa tentang kuantum cahaya dan sekaligus hipotesa tentang efek foto listrik yang baru dibuktikan tahun 1909 oleh Millikan melalui eksperimen efek foto listrik.
Laju pancaran elektron diukur sebagai arus listrik pada rangkaian luar dengan menggunakan sebuah ampheremeter, sedangkan energi kinetiknya ditentukan dengan mengenakan suatu potensial perlambat (retarding potential) pada anoda sehingga elektron tidak mempunyai energi yang cukup untuk melewati potensial penghalang yang terpasang. Secara eksperimen, tegangan perlambatan terus diperbesar sehingga pembacaan arus pada amperemeter menuju ke nol. Tegangan ini disebut potensial pemberhenti (Stopping Potential) V0, karena elektron yang berenergi tinggi tidak dapat melewati potensial henti ini, maka ukuran V0 merupakan suatu cara untuk menentukan energi kinetik maksimum elektron Ekmaks.
Dari berbagai percobaan tersebut, kita pelajari fakta-fakta terperinci efek fotolistrik sebagai berikut :
1.         Potensial pemberhenti (Stopping Potensial) Vo untuk bahan anoda tertentu tidak bergantung dari intenistas cahaya yang menyinari bahan anoda.
2.         Potensial pemberhenti Vo bergantung dari frekuensi n dari cahaya yang menyinari anoda. Dalam gambar di bawah ini lengkung iG terhadap Vo dibuat untuk keadaan dengan anoda yang sama, dan 3 frekuensi yang berlainan.
3.         Untuk satu macam bahan anoda, lengkung potensial pemberhenti Vo sebagai fungsi-fungsi frekuensi n cahaya, merupakan garis yang lurus ternyata ada satu frekuensi potong n (cut-off frequency), yang menjadi batas efek fotolistrik. Artinya berkas cahaya dengan frekuensi di bawah harga no tidak akan menghasilkan efek fotolistrik berapapun intensitasnya.

Setiap logam memiliki harga n, juga memiliki Wo tersendiri. Sehingga Wo adalah harga minimum energi yang harus dimiliki elektron untuk melepaskan diri dari permukaan logam. Selanjutnya Wo dinamakan fungsi kerja logam. Harga Wo ini pun kadang-kadang dinyatakan dalam bentuk beda potensial f, dimana f = Wo/e, dimana e adalah muatan elektron. Satuan f adalah Volt, dan W dalam joule atau elektron Volt (eV).
Dengan demikian hipotesa Einstein menghasilkan hubungan kekekalan energi 
Hal ini dapat menerangkan secara konseptual fakta-fakta eksperimental tentang efek fotolistrik. 
Dari ungkapan 

Jelas bahwa Ek atau V0 hanya bergantung dari frekuensi dan bukan dari intensitas cahaya.

Efek fotolistrik terjadi dengan syarat sebagai berikut :
1.         Panjang gelombang ambang sinar (datang) > panjang gelombang bahan
2.         Frekuensi sinar ( ) > frekuensi ambang bahan ( )
3.         Energi foton sinar (E) >energi ambang bahan (Wo)

Pandangan fisika klasik yang memandang cahaya sebagai gelombang dengan teorinya yaitu teori gelombang cahaya gagal menerangkan beberapa sifat penting pada efek fotolistrik, hal tersebuat dikarenakan antara lain:
1.   Teori gelombang menyatakan bahwa energi kinetik elektron foton harus bertambah jika intensitas (jumlah foton) cahaya diperbesar.
2.   Teori gelombang menyatakan bahwa efek fotolistrik dapat terjadi pada setiap frekuensi asalkan intensitasnya memenuhi.
3.   Teori gelombang menyatakan bahwa dibutuhkan rentang waktu yang cukup lama agar elektron berhasil mengumpulkan energi untuk keluar dari permukaan logam.
4.      Teori gelombang tidak dapat menjelaskan mengapa energi kinetik maksimum elektron foto bertambah jika frekuensi cahaya diperbesar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan efek fotolistrik adalah  :
1.       Elektron akan segera terlepas, tanpa perlu waktu tunda
2.     Penambahan intensitas dari cahaya akan menambah jumlah elektron yang terlepas, tetapi tidak menambah besar energi kinetik
3.    Cahaya merah tidak akan menyebabkan keluarnya elektron, berapapun besar intensitasnya.
4.   Cahaya violet (ungu) yang lemah akan mengeluarkan sedikit elektron, tetapi besar energi kinetik maksimum akan bertambah dibandingkan untuk intensitas cahaya yang panjang gelombannya lebih besar.

Dari hasil eksperimen diperoleh bahwa energi yang dilepaskan elektron akan sebanding dengan frekuensi sinar yang datang. Hal ini sesuai dengan hipothesis Planck, bahwa radiasi benda hitam hanya terjadi dalam paket-paket energi.

It's Story : "KKN"


 Kuliah Kerja Nyata Universitas Pendidikan Indonesia
Desa Cinisti Bayongbong Kabupaten Garut-JawaBarat

Fenomena itu berawal dari pengabadian pada masyarakat
"Real actionnya seorang mahasiswa" : slogan di zaman saat ini
Sebuah desa yang tak terpencil tapi cukup unik
Wajahnya terlihat bagus dengan berbagai pemandangan yang ada

 

Syukur pada Rabb yang tak henti terucap
Kami bisa melihat fenomena ini, menyaksikan adik-adik yang kuat dalam hidupnya
Semangat belajar meski jarak cukup jauh
Semangat belajar meski tak ada orang tua yang menyuruh
Semangat belajar untuk bisa meski kemampuan terbatas
The Great child , I don't know what i will do if i like them




Berusaha membantu
Mendengarkan ceritanya disekolah
Mereka hebat, semangatnya luar biasa

 
 


Wajah polosmu, dek
Mengatakan pada kami mahasiswa : KKN ini tidak cukup membantumu
Kami tak bisa mengubah kehidupanmu
Yah begitu kecil apa yang kami lakukan, mungkin engkaupun tak melihatnya
Karena saat ini engkau masih sama kan?
"Kak, bukan hanya sekedar KKN yang kami butuhkan
Tapi kami membutuhkan yang menjamin kehidupan kami"
Menjadi PR Bagi Mahasiswa jika belum ada perubahan


-Terima Kasih Warga Desa Cinisti Garut-

Senin, 12 Januari 2015

Rakyat Bagai Kelinci Percobaan dengan terus diterapkannya Ekonomi Liberal

         Tahun baru 2015 tinggal menghitung hari, berbagai rencana dibentuk menyongsong tahun baru ini. Perencanaan dibentuk dengan menggantungkan berbagai harapan kesuksesan temasuk melalui kehadiran event baru yaitu AEC (Asean Economic Community) atau kita kenal dengan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Kehadiran AEC membuktikan bahwa Indonesia dan globalisasi sangatlah dekat dengan pasar bebas. Pasar bebas akan menjadikan semua orang ASEAN bebas masuk dan keluar dari suatu negara di kawasan ASEAN, perusahaan pun mempunyai kebebasan untuk memilih pendirian pabrik dan kantor perusahaan di wilayah ASEAN, semua sektor pun bebas dimiliki swasta, harga pun ditentukan oleh pasar sehingga pasar bebas pun menjadi sebuah event yang akan memberikan pengaruh besar pada keadaan ekonomi masyarakat Indonesia pada tahun 2015.
Kapasitas Indonesia dengan daya saing (2012-2013) ke-50 dari 144 negara, masih dibawah dibandingkan dengan Singapura ke-2, Malaysia ke-25, Brunei ke-28, dan Thailand ke-38. Hasil Studi Bank Dunia (2013) pun menyebutkan bahwa daya saing produk ekspor Indonesia relatif tertinggal dibanding negara-negara ASEAN lain, terutama kaitannya dengan nilai tambah produk ekspor. Kapasitas Indonesia yang minim pun akan sedikit demi sedikit membiarkan rakyat kecil terus sengsara dalam kemiskinan ketika MEA ini hadir karena lahan kesejahteraan pun menjadi bahan rebutan 10 negara beserta para penduduknya. Pasar domestik yang menjadi andalan rakyat kecil Indonesia pun sedikit demi sedikit akan padam.
        “Siapa kuat dia dapat, siapa yang menjadi Singa maka dia lah yang jadi raja hutan, tak ada nilai kemanusiaan, tak ada nilai luhur untuk kenyang” MEA ini sangat jelas hadir untuk membawa liberalisasi dalam segala sektor, menumbuhkan jiwa kapitalisme dalam apapun, negara pun angkat tangan dalam usaha penyejahteraan rakyatnya. Hal ini berbanding terbalik dengan Islam yang sangat detail mengatur kehidupan rakyatnya per individu, yaitu pemerintah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pemenuhan hajat hidup publik, institusi pemerintah (negara) lah yang menyediakan barang dan jasa hajat hidup publik, negara tidak dibenarkan mengambil keuntungan dari fasilitas umum, tidak adanya privatisasi dalam sumber daya alam (padang rumput, air, dan api), terlepas dari politik penjajahan, strategi pelayananpun mencakup dalam aturan yang sederhana, layanan yang cepat, dan dilakukan oleh individu yang berkompeten. Konsep ekonomi islam ini pun memperlihatkan bahwa negara bagi rakyat berfungsi sebagai ayah yang harus menjaga dan menjamin anaknya. Penerapan ekonomi Islam ini hanya bisa dilakukan dalam sebuah institusi Khilafah Islamiyyah yang menentang liberalisasi dan kapitalisme dan terbukti berhasil menyejahterakan warganya selama 13 abad.
            Wahai kaum muslim, sungguh harapan yang semu jika berharap kesejahteraan pada ekonomi liberal kapitalisme, terbukti sudah 69 tahun Indonesia menerapkan hal itu tetapi tidak kunjung mengeluarkan rakyat dari kesengsaraan, maka jika terus diterapkannya sistem ekonomi liberal kapitalime ini, rakyat pun terus dipandang sebagai kelinci percobaan. Sungguh kesejahteraan itu akan ada dalam naungan Khilafah Islamiyyah, bersuara lah untuk menentang MEA dan menyuarakan Syariah dan Khilafah.