Sabtu, 24 Maret 2018

Wujud Kepedulian Hakiki terhadap Negeri



Oleh Tia Miftahul Khoiriyah | Aktivis Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
 
Keadaan Indonesia di tahun 2015 ini sangatlah guncang, karena berbagai kebijakan yang disahkan oleh pemerintah. Salah satunya BPJS-Kesehatan yang sangat kontroversial karena telah ada banyak korban. Bukan hanya rakyat biasa, purnawirawan tentara juga menjadi korban buruknya pelayanan BPJS. Bahkan, seorang purnawirawan TNI berpangkat mayor jenderal dilaporkan ditolak berobat di sebuah rumah sakit karena Askes yang menjadi jaminan selama ini sudah tidak berlaku lagi. Begitu pun dengan seorang kakek tua asal lampung yang di tolak dan “di buang” oleh rumah sakit. Hal itu terjadi karena faktor sistem pembiayaan kesehatan yang tidak cukup di berikan kepada pihak Rumah Sakit. Padahal bagi seorang yang sakit tiap menit bahkan detik itu begitu berharga bagi kehidupannya. 


Kondisi ini membuat para tokoh pengamat keadaan Indonesia bermunculan, dari mulai tokoh yang berlabelkan Pengamat Politik, Walikota, Ormas, DPR, hingga relawan pengusung Jokowi sebagai Presiden pun muncul mengkritik atas kebijakan yang diterapkan. Tak mau kalah pemerintah yang tergabung dalam Kabinet Kerja ini meredam para pengkritik itu dengan dalih bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap negeri. 


Nyatanya, masyarakat tidak percaya terhadap dalih kepedulian terhadap negeri. Kini mereka sudah tidak semudah itu menerima argumen tanpa analisis. Kepedulian semu yang diberikan pemerintah tidak mampu merubah keadaan Indonesia. Padahal, pemerintah merupakan pemegang kekuasaan, di tangan merekalah kebijakan apapun dapat terlaksana sehingga periayahannya merupakan wujud kepedulian yang memberi dampak besar pada kondisi masyarakat. Tapi melihat kebijakan yang diterapkan saat ini menjadi salah satu bukti bahwa Kapitalisme telah tertanam di Pemerintah.


Kapitalisme merupakan ide kufur yang bertentangan dengan Islam. Islam sebagai agama sempurna yang berasal dari Sang Maha Penyayang sangat memperhatikan keadaan masyarakat serta mendorong wujud kepedulian yang hakiki. Umar bin Khatab, seorang Khalifah yang sangat peduli terhadap rakyat, mewujudkan kepeduliannya dengan melakukan patroli malam untuk melihat keadaan masyarakatnya secara langsung. Sikap tersebut lahir bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan, melainkan lahir karena kesadaran bahwa seorang pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya maka dari itu ia harus mampu menjamin kesejahteraan setiap individu rakyatnya dengan cara yang sesuai hukum Syara. 


Abu Maryam al’ Azdy r.a berkata kepada Muawiyah, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang diserahi oleh Allah mengatur kepentingan kaum muslimin, yang kemudian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka Allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari qiamat.” Maka kemudian Muawiyah mengangkat seseorang untuk melayani segala hajat kebutuhan orang-orang (rakyat) (HR Abu dawud At Tirmidzy).


Pemimpin seperti Umar bin Khatabb ra ini ada karena telah menyerahkan diri dan jiwanya kepada Allah SWT. Dengan penuh keikhlasan pula mereka terus mempermudah semua urusan rakyat dalam berbagai aspek kehidupan baik itu ekonomi, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Keberadaan aqidah, harta, jiwa, keturunan, akal, bahkan kehormatan pun akan dilindungi oleh pemimpin dalam sistem Khilafah Islamiyyah.


Maka tak rindukah kita akan sosok pemimpin seperti itu? Sungguh sudah saatnya kita bangkit untuk mengkritisi segala bentuk kepedulian semu ini. Bangkit untuk mewujudkan kepedulian hakiki terhadap negeri dengan kembali menerapkan aturan Islam secara sempurna di dunia.


Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar