Oleh Tia Miftahul Khoiriyah |
Aktivis Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Keadaan
Indonesia di tahun 2015 ini sangatlah guncang, karena berbagai kebijakan yang
disahkan oleh pemerintah. Salah satunya BPJS-Kesehatan yang sangat
kontroversial karena telah ada banyak korban. Bukan hanya rakyat biasa,
purnawirawan tentara juga menjadi korban buruknya pelayanan BPJS. Bahkan,
seorang purnawirawan TNI berpangkat mayor jenderal dilaporkan ditolak berobat
di sebuah rumah sakit karena Askes yang menjadi jaminan selama ini sudah tidak
berlaku lagi. Begitu pun dengan seorang kakek tua asal lampung yang di tolak
dan “di buang” oleh rumah sakit. Hal
itu terjadi karena faktor sistem pembiayaan kesehatan yang tidak cukup di
berikan kepada pihak Rumah Sakit. Padahal bagi seorang yang sakit tiap menit
bahkan detik itu begitu berharga bagi kehidupannya.
Kondisi
ini membuat para tokoh pengamat keadaan Indonesia bermunculan, dari mulai tokoh
yang berlabelkan Pengamat Politik, Walikota, Ormas, DPR, hingga relawan
pengusung Jokowi sebagai Presiden pun muncul mengkritik atas kebijakan yang
diterapkan. Tak mau kalah pemerintah yang tergabung dalam Kabinet Kerja ini
meredam para pengkritik itu dengan dalih bahwa kebijakan tersebut merupakan
bentuk kepedulian terhadap negeri.
Nyatanya,
masyarakat tidak percaya terhadap dalih kepedulian terhadap negeri. Kini mereka
sudah tidak semudah itu menerima argumen tanpa analisis. Kepedulian semu yang
diberikan pemerintah tidak mampu merubah keadaan Indonesia. Padahal, pemerintah
merupakan pemegang kekuasaan, di tangan merekalah kebijakan apapun dapat
terlaksana sehingga periayahannya merupakan wujud kepedulian yang memberi
dampak besar pada kondisi masyarakat. Tapi melihat kebijakan yang diterapkan
saat ini menjadi salah satu bukti bahwa Kapitalisme telah tertanam di Pemerintah.
Kapitalisme
merupakan ide kufur yang bertentangan dengan Islam. Islam sebagai agama
sempurna yang berasal dari Sang Maha Penyayang sangat memperhatikan keadaan
masyarakat serta mendorong wujud kepedulian yang hakiki. Umar bin Khatab,
seorang Khalifah yang sangat peduli terhadap rakyat, mewujudkan kepeduliannya
dengan melakukan patroli malam untuk melihat keadaan masyarakatnya secara
langsung. Sikap tersebut lahir bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan,
melainkan lahir karena kesadaran bahwa seorang pemimpin kelak akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya maka dari itu ia harus mampu menjamin
kesejahteraan setiap individu rakyatnya dengan cara yang sesuai hukum Syara.
Abu
Maryam al’ Azdy r.a berkata kepada Muawiyah, saya telah mendengar Rasulullah saw
bersabda: “Siapa yang diserahi oleh Allah mengatur kepentingan kaum muslimin,
yang kemudian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka Allah akan
menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari qiamat.” Maka kemudian
Muawiyah mengangkat seseorang untuk melayani segala hajat kebutuhan orang-orang
(rakyat) (HR Abu dawud At Tirmidzy).
Pemimpin
seperti Umar bin Khatabb ra ini ada karena telah menyerahkan diri dan jiwanya
kepada Allah SWT. Dengan penuh keikhlasan pula mereka terus mempermudah semua
urusan rakyat dalam berbagai aspek kehidupan baik itu ekonomi, pendidikan,
sosial, dan kesehatan. Keberadaan aqidah, harta, jiwa, keturunan, akal, bahkan
kehormatan pun akan dilindungi oleh pemimpin dalam sistem Khilafah Islamiyyah.
Maka
tak rindukah kita akan sosok pemimpin seperti itu? Sungguh sudah saatnya kita
bangkit untuk mengkritisi segala bentuk kepedulian semu ini. Bangkit untuk
mewujudkan kepedulian hakiki terhadap negeri dengan kembali menerapkan aturan
Islam secara sempurna di dunia.
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar