Jumat, 09 Februari 2018

Beruntunglah Orang Yang Merasa Ter-Asing




Ketika dikampung menjalankan Islam, akan merasa seperti orang yang terasing.
Ketika berjenggot di kantoran, juga terasing.
Ketika menjauhi riba, juga terasing.
Ketika di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna,
bahkan ketika memegang Islam kaffah, kian terasing.
Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul saw
bahkan ingin menjauhi kesyirikan, sama halnya kian terasing.
Itulah keterasingan Islam saat ini. 

Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran.  

~Thuba lil ghurobaa~

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi, “Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)

Sebagaimana kata As Sindi dalam Hasyiyah-nya terhadap kitab Sunan Ibnu Majah,
disebut ‘gharib’jika pengikutnya sedikit.

Kembali dalam keadaan asing karena sedikitnya yang mau menjalankan syariat Islam
dan saling mendorong dalam menjalankan Islam, padahal umat Islam banyak.
"Beruntunglah orang yang asing, yaitu yang menjalankan ajaran Islam tersebut".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar