Remaja adalah generasi penerus
bangsa yang akan menerima tongkat
estafet kepemimpinan. Namun saat ini terdapat
berbagai potret buram sang generasi penerus bangsa. Kekerasan, dan pergaulan bebas menjadi gambaran
remaja saat ini.Pelecehan seksual, perkelahian antar pelajar,
pornografi, kebut-kebutan, tindakan
kriminal seperti pencurian dan perampasan barang orang lain, pengedaran dan
pesta obat-obat terlarang, bahkan aborsi pun menjadi gaya hidup
remaja saat ini. “Dari 14.726
sampel anak SMP dan SMA di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jakarta,
Bandung, Makassar, Medan, Lampung, Palembang, Kepulauan Riau dan kota-kota di
Sumatera Barat dalam Forum Diskusi Anak Remaja pada 2011 hampir 93,7 persen
pernah melakukan hubungan seks. Lalu 83 persen mengaku pernah menonton video
porno, dan 21,2 persennya itu mengaku pernah melakukan aborsi,” jelas Ketua
Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, (news.detik.com).
Jika
kita melihat dengan seksama, adanya degradasi moral terhadap kaum muda secara
masal berhubungan erat dengan sistem hidup yang diterapkan saat ini yakni
sekulersime. Deretan potret buram
remaja saat
ini adalah bukti kebobrokanpenerapan sistem sekulerisme yang memisahkan
agama dan kehidupan. Sistem sekuler ini mengkondisikan
seluruh elemen masyarakat dan seluruh aspek kehidupan untuk membentuk
masyarakat yang bebas tidak lagi memperdulikan standar halal-haram yang berasal
dari Allah. Termasuk dalam hal pendidikan yang mengacu pada sistem sekulerisme.
Sehingga output pendidikan yang dihasilkan bukan lagi seseorang yang memiliki
kepribadian islam, menguasai tsaqofah
islam dan menguasai sains dan teknologi tapi lebih kearah meraup materi
sebanyak-banyaknya dan satu hal yang menyedihkan adalah adanya degradasi moral.
Penyelesaian dari permasalahan remaja ini hanya dapat
diselesaikan ketika kita memegang aturan Allah
(islam) dalam kehidupan. Dalam islam, pendidikan diatur dan memiliki tujuan
yang sangat jelas yakni bersyakhsiyah islam (berkepribadian islam), menguasai tsaqofah islam dan sains serta teknologi. Dimana tujuan pendidikan ini akan
mengarahkan kurikulum serta pelaksanaannya secara praktis di lapangan. Tidak
hanya dari aspek pendidikan yang diterapkan oleh negara, tapi untuk membentuk
generasi yang cemerlang perlu juga adanya dukungan dari keluarga dan kontrol
masyarakat. Sehingga, ketika elemen keluarga, masyarakat dan negara memiliki
satu pemikiran dan perasaan yang sama yakni islam serta di kondisikan oleh
negara dengan menerapkan Islam totalitas maka akan terbentuk generasi penerus
bangsa yang memiliki kepribadian islam, visioner,
kontributif, cendekia, intelek, memiliki metode berfikir yang benar dan profil
ideal lainnya. Hal ini hanya bisa dirasakan ketika Islam diterapkan secara praktis
dalam kehidupan.
Islam adalah sebuah aturan kehidupan yang
sempurna yang mampu menyelamatkan kita dunia dan akhirat.
Karena Islam bersumber dari sang Pencipta yang menciptakan kita yakni Allah,
sehingga mustahil jika Islam memiliki kecacatan. Beda halnya dengan sistem
kehidupan buatan manusia (sekulerisme) yang serba lemah dan terbatas karena
sistem ini lahir dari manusia yang memiliki kelemahan dan keterbatasan sehingga
wajar jika kondisi yang ada serba terpuruk dan rusak.
Islam
hanya bisa diterapkan dibawah institusi yang bisa menaunginya yakni Khilafah.
Oleh karena itu, kita selaku umat muslim harus tetap istiqomah untuk memperjuangkan
penerapan syari’ah Islam dalam kehidupan.
Wallahu’alam bi ash-showab
Tia Miftahul Khoiriyah
Universitas Pendidikan Indonesia
Alamat email: tia.miftahul@gmail.com
Semmoga bermanfaat dan menjadi sesuatu yang bisa menjadi energi aktivasi menuju khilafah aamiin
BalasHapus